Kamis, 17 April 2014

Cerpen ku yang ke-2


                            KEMARAHAN YANG TERPENDAM

Dikelas XI IPA2 suasana kelas ribut. Dewi, ketua kelas XI IPA 2 pusing dengan kelakuan teman-temannya yang membuat onar. Dewi adalah perempuan yang pintar, karena itu, teman-temannya memilih dia sebagai ketua kelas. Katanya sih untuk dijadikan contoh buat teman-temannya. Dewi mempunyai karakter yang susah marah, apalagi dengan temannya. Tetapi, lama kelamaan di dalam hatinya, tumbuh rasa kemarahan yang tidak dapat diungkapkan. Dewi kesal banget dengan temannya yang bernama Sinta. Sinta adalah salah satu siswi kelas XI IPA 2, dia siswi yang paling susah diatur. Dewi sudah beberapa kali menegur Sinta agar dia diam, tapi sedikit pun tidak di dengar oleh Sinta. Suatu hari, kemarahan Dewi semakin menjadi. Hatinya sangat sakit, tapi ia tetap menahan emosinya itu. Dewi juga memiliki masalah dirumahnya. Dewi adalah anak broken home, ia tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tuanya. Orang tuanya terlalu sibuk dengan karir mereka masing-masing. Dewi merasa sendiri. Tidak ada seorang pun yang menemani. Dewi merenung sendiri, bagaimana agar Sinta mau mendengar kata-kata Dewi. Akhirnya Dewi memutuskan untuk mendekati Sinta. Keputusannya itu berhasil, ia dan Sinta menjadi teman, Sinta sedikit demi sedikit mau mendengar apa yang dikatakan Dewi.
***
Dewi memiliki sahabat yang bernama Vera dan Doni. Mereka sering banget main-main bertiga. Dewi, ternyata menyukai Doni. Menurutnya, Doni adalah anak yang baik dan pinter. Waktu terus berjalan, suatu hari Doni curhat dengan Dewi masalah perasaannya. Doni mengatakan bahwa dia menyukai seseorang, yaitu sahabatnya sendiri . Dewi penasaran dan bertanya siapa orang yang dimaksud. Doni menjawab dengan agak gugup dan malu, ia menjawab Vera. Sentak Dewi terkejut dan mulai tidak menyukai Vera. Dewi hanya terdiam dan tidak berkata sedikit pun. Lalu ia pergi meninggalkan Doni sendiri. Sepanjang perjalanan, ia terbayang-bayang dengan kata-kata yang dilontarkan oleh Doni. Mulai saat itu, Dewi membenci Vera dan Doni, karena ia merasa tidak ada lagi yang menyayanginya, ia putus as. Saat ia berkumpul bertiga, kelakuan Dewi dari hari ke hari makin aneh, ia sering pergi jika ia kumpul bertiga. Vera yang saat itu membawa makanan ringan dan menawarkannya kepada Dewi, seketika juga Dewi menolak dengan nada keras yang membuat Vera terkejut. Doni yang melihat itu langsung menghampiri Dewi dan memarahi Dewi. Dalam hati Dewi, ia merasa amat sedih, orang yang ia cintai membentaknya.
***
Dewi merenung seorang diri di kamarnya. Suara tangisan terdengar sampai depan pintu kamar Dewi. Ibu dan ayahnya yang pulang sudah larut malam mendengar suara tangisan itu. Ibu Dewi menggedor-gedor kamar Dewi. Tapi tak ada sedikit pun Dewi menyahut panggilan ibunya. Tak lama, suara tangisan itu tidak ada, kekesalan ia tuangkan kepada bantal yang ia cabik-cabik menggunakan gunting. Malam itu, sangat lama bagi Dewi. Kebencian didalam dirinya makin menjadi. Kemarahan yang ia tidak bisa tuangkan. Pikiran Dewi saat itu amatlah pendek. Ia mengambi sebuah guntung dan foto kedua sahabatnya. Lalu ia gunting-gunting foto kedua sahabatnya itu. Subuh sekali, kedua orang tuanya sudah berangkat untuk bekerja. Hari itu Dewi tidak masuk sekolah, dan tidak mengirim surat. Ia mengurung diri dikamar dan seharian tidak keluar kamar. Malam harinya, Dewi baru keluar kamar, ia mencari makanan didapur, saat ia memotong apel terlintas dibenaknya, untuk membunuh  Doni dan Vera. Dewi pergi kekamarnya dan membuat sebuah rencana yang mulus. Menurutnya rencana tersebut tidak akan ada yang tau. Ia mulai melakukan kejahatannya itu keesokan harinya. Saat jam istirahat, Vera dan Doni sedang bakso. Sebelum diantarkan, Dewi menaruh obat pencahar di dalam bakso tersebut. Tak lama setelah mereka makan, perut kedua sahabatnya mules, dan mereka pergi ke kamar mandi. Di sana Dewi mulai bertindak. Kamar mandi yang di masuki oleh Vera dikunci dari luar dan diberi pengharum ruangan yang banyak. Setelah itu pintu dibuka Dewi. Vera yang sudah lemas melihat dengan samar seseorang menggunakan jubah hitam. Karena kekurangan oksigen dan sudah tidak bisa bergerak karena lemas, Dewi memberi obat kepada Vera dan menyuruh Vera minum obat yang melebihi dosis dengan paksaan, kemudian mulut dan hidungnya ditutup dengan tangan Dewi sendiri yang dibaluti kain. Beberapa menit kemudian Dewi melepaskan tangannya, busa keluar dari mulut Vera. Senyuman di lontarkan oleh Dewi sambil pergi meninggalkan Vera dikamar mandi. Doni yang masih keluar masuk kamar mandi, saat ia keluar dari kamar mandi, ia terkejut dengan orang yang berjubah hitam, yang seketika itu membius Doni. Orang itu adalah Dewi, Dewi menusuk Doni di kamar mandi belakang sekolah, pisau yang digunakan ia lepaskan di tangan Doni dan Dewi sudah menusukkan beberapa kali ke bagian perut Doni. Pisau itu sengaja ia lepaskan agar seakan-akan Doni menusuk dirinya sendiri.
***
Bel pulang berbunyi, siswi yang lari terbirit-birit ke kamar mandi karena kebelet, dengan kerasnya berteriak. Guru yang kebetulan lewat langsung mendatangi asal suara teriakan. Sentak gurunya terkejut melihat Vera yang tergeletak di kamar mandi dengan mulut di penuhi dengan busa. Para siswa yang lain berdatangan dan pak satpam datang. Vera di bawa ke rumah sakit, tapi nyawanya tidak tertolong lagi. Malam harinya, penjaga sekolah mengecek sekolah, lorong demi lorong di periksa. Saat melewati kamar mandi laki-laki ia mencium aroma tidak sedap dari sana. Akhirnya penjaga memeriksa kamar mandi. Dengan terkejutnya ia melihat Doni yang berlumuran darah di bagian sekujur badan Doni. Penjaga sekolah langsung menghubungi kepala sekolah dan menceritakan apa yang terjadi. Beberapa menit kemudian kepala sekolah datang. Melihat hal tersebut, kepala sekolah menghubungi pihak kepolisian untuk di tidak lanjuti. 30 menit kemudian kepolisan datang dan langsung melakukan olah TKP. Menurut investigasi sementara, kepolisian menyimpulkan bahwa Doni seperti menusuk diri sendiri. Tapi polisi masih melanjutkan investigasinya dan membawa Doni ke rumah sakit untuk di otopsi. Keesokan harinya pihak kepolisian datang ke sekolah untuk memberi keterangan mengenai Doni. Dewi di kelas hanya diam, dan sedih karena kedua sahabatnya mati dengan cara mengenaskan. Teman sekelasnya memberi suport untuk Dewi agar ia tidak bersedih lagi. Hari-hari Dewi semakin suram. Kemarahan yang masih belum bisa terobati. Orang tuanya masih sibuk dengan urusan masing-masing. Teman-teman sekelasnya masih saja susah di atur. Ia berniat untuk membunuh temannya yang susah di atur yang bernama Bayu. Bayu adalah siswa yang susah di atur, ia adalah siswa XI IPA 2 yang gak pernah absen di BK. Bayu adalah anak guru BK, julukan dari teman-temannya. Saat itu Dewi sedang bad mood, ia capek turun naik tangga karena banyak tugas yang diberikan oleh gurunya, karena kelasnya di lantai 3. Suara kelas yang amat ribut membuat Dewi makin pusing. Kelakuan Bayu membuat Dewi muak. Tapi ia menenangkan diri dan bisa mengendalikan emosinya.
***
Seminggu kemudian, setelah 7 hari meninggalnya Vera dan Doni, kemarahan Dewi kepada Bayu semakin menjadi. Bayu yang saat itu berjalan pada malam hari pulang sekolah setelah menghadiri 7 hariannya Vera dan Doni. Tiba-tiba Bayu melihat orang menggunakan jubah hitam di balik pohon. Sentak ia lari terbirit-birit ketakutan. Karena takutnya kaki Bayu lemas, saat Bayu sedang duduk, kakinya susah digerakkan, seketika itu pisau dari belakang Bayu di tancapkannya oleh Dewi hingga menembus dada Bayu. Kemudian pisau itu dicabut dan di tusukkan lagi oleh Dewi. Darah bercucuran, mayat Bayu di biarkan begitu saja oleh Dewi tanpa di pindahkan ataupun di tutup. Pagi hari, seorang pemulung melewati jalan tersebut, awalnya pemulung itu mengira binatang yang mati, setelah diamati dan didekati ternyata seorang manusia yang memakai pakaian seragam sekolah yang tak jauh dari tempat itu. Pemulung itu langsung berlari menuju sekolah dan memberi taukan hal tersebut kepada pak satpam. Pak satpam yang tidak percaya akhirnya mengikuti pemulung yang memberi taunya. Benar saja, pak satpam melihat siswa sekolah itu meninggal lagi. pak satpam langsung menghubungi kepala sekolah dan kepala sekolah menyusul ke tempat kejadian. Untuk kedua kalinya kepala sekolah menghubungi pihak kepolisan dan menceritakan hal tersebut. Belum tuntas tentang kematian Doni dan Vera, Bayu juga mati dengan cara yang mengenaskan. Polisi melakukan hal sama yang dilakukan pada saat menginvestigasi Doni. Salah seorang polisi sedang berbincang-bincang dengan kepala sekolah mengenai hal yang belakangan ini sering terjadi disekolahnya. Menurut kepala sekolah, ada yang meneror sekolah atau ada mahluk gaib yang meminta tumbal. Tapi menurut seorang polisi tersebut ada unsur kesengajaan yang dilakukan oleh seseorang. Setelah berbincang-bincang dengan kepala sekolah dan memberikan keterangan. Polisi tersebut meninggalkan sekolah. Tidak sengaja Dewi mendengar pembicaraan kepala sekolah dengan seorang polisi tersebut. Kaena takut apa yang dilakukannya diketahui oleh orang banyak, Dewi melakukan sesuatu. Dewi mencari tau tentang polisi yang datang ke ruang kepala sekolah tersebut. Setelah ia rasa cukup, tentang alamat, keluarga dan teman temannya, Dewi memulai rencananya. Di tengah malam, ia melakukan aksinya tersebut. Ia mendatangi rumah polisi dan mengendap secara perlahan dan mulus. Pintu di gedornya beberapa kali. Istri polisi yang mendengar suara gedoran pintu membangunkan suaminya. Karena suaminya kelelahan, akhirnya istri polisi itu memeriksa ke depan rumahnya. Saat itu, Dewi mengendap kedalam rumahnya melalui jendela anak polisi tersebut dan sesegera mungkin mencari kamar polisi. Tak lama, Dewi menemukan kamarnya dan tanpa basa basi langsung menusukkan pisau yang dibawanya ke badan polisi tersebut beberapa tusukan, setelah itu, Dewi menyelimutkan polisi tersebut dan meninggalkannya. Istri polisi yang memeriksa ruang tamu tidak bertemu denga seorang pun dan kembali kekamar. Ia kembali tidur, saat akan berselimut, lumuran darah dibalik selimut membuat istrinya teriak dengan kerasnya dan 2 anak polisi itu terbangun. Tetangga sebelahnya itu terbangun dan mendatangi rumah polisi tersebut. Anaknya yang melihat ayahnya yang berlumuran darah, berlari kembali kekamarnya sambil ketakutan, sedangkan tetangganya datang dan di bukakan pintu oleh anak polisi yang satunya. Tetangganya bertanya apa yang terjadi dan melihat dengan mata kepala sendiri, polisi itu berlumuran dengan darah.
***
Teman-teman polisi dengan serius melacak dan mencari tau tentang hal yang aneh itu. Saat polisi menginvestigasi dan berkeliling sekitar rumah polisi yang mati itu. Ada seorang polisi yang menemukan jejak sepatu. Ia ikuti terus menerus sampai menuju kamar anak polisi yang dilalui Dewi. Di bagian jendela terdapat sidik jari Dewi. Polisi tersebut mengambil sidik jari tersebut dengan alat yang di bawanya. Sidik jari tersebut dibawa ke kantor polisi untuk dijadikan bukti. Beberapa hari kemudian setelah kejadian polisi mendatangi sekolah Dewi dan melakukan pengambilan sidik jari. Benar saja, wali kelas dan kepala sekolah yang berada disana terkejut. Karene sidik jari tersebut adalah sidik jari milik Dewi. Akhirnya Dewi dibawa kekantor polisi dan di proses. Orang tua Dewi datang kekantor kepolisian setelah 2 hari Dewi berada di tahanan. Saat orang tuanya datang dan membesuk Dewi, Dewi menusuk ayahnya di depan polisi. Dewi pun dilerai dan dimasukkan kedalam sel sedangkan ayahnya dibawa kerumah sakit. Dewi yang makin stres dengan semua hal itu menyayat-nyayat tangannya dengan pisau yang disimpan dan tidak diketahui oleh polisi. Sayatan itu makin banyak. Suatu malam, tahanan sebelah sel nya sedang ribut, membuat pikiran Dewi tidak tenang. Ia mengingat suasana kelas yang ribut, mengingat Vera, Doni, sekolah, orang tua dan semuanya. Dewi makin putus asa. Polisi yang melerai tahanan yang sedang ribut melihat Dewi sejenak. Dewi yang membelakaingi polisi menusuk-nusuk badannya yaitu bagian perut. Polisi lalu menenangkannya dan dibawa kerumah sakit. Setelah di obati beberapa bekas tusukan diperutnya, Dewi dibawa ke rumah sakit jiwa untuk diperksa kejiwaannya.


*THE END*


Karyaku *Eldy Septihardini*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar