Penghianatan
Nindi adalah sahabat baik
Anggi dan Tari. Mereka selalu bersama. Entah disekolah ataupun diluar sekolah.
Persahabatannya sudah cukup erat. Walau mereka belum lama saling mengenal.
Mereka telah bersahabat hampir 6 bulan lamanya. mereka sering kumpul bersama
dan mengadakan kerja kelompok. Di sela-sela mereka berkumpul, banyak hal yang
di ceritakan oleh mereka bertiga. Entah itu masalah pelajaran, ataupun teman-teman
mereka. Mereka bertiga termasuk siswi yang pintar dikelasnya. Terutama Nindi.
Nindi sering diminta oleh guru untuk mengajarkan teman-temannya. Semester 2 tahun ajaran 2013/2014, mereka disibukkan
dengan praktek. Suatu ketika, mereka diberikan tugas praktek yang dikerjakan
secara individu. Saat itu Tari bertanya kepada Nindi dan Nindi memberi tau
Tari. Beberapa kali Tari bertanya, dan selalu dijawab Nindi. Setelah beberapa
kali bertanya, Tari ingin melihat pekerjaan Nindi. saat itu Nindi lagi tidak
ingin memberi lembar kerjanya. Akhirnya Tari ngambek. Mulai dari pelajaran itu sampai
pulang sekolah, Tari tidak menyapa Nindi. Nindi mengetahui itu dan hanya
terdiam. Karena Nindi sudah tau sifatnya. Keesokan harinya, Nindi menjauhi Tari dan
Anggi. Entah apakah Anggi juga mendiamkannya atau tidak. Perselisihan ini
semakin terlihat dan beberapa temannya mengetahui hal itu termasuk laki-laki yang
Nindi suka. Guru mereka menyuruh membuat kelompok dan Nindi berkelompok dengan
teman-temannya yang dibelakang. Setelah pelajaran selesai. Nindi tetap duduk
dibelakang. Ada temannya yang bertanya “Nin,
kenapa kamu duduk dibelakang?”. Pertanyaan itu tidak dirisaukannya dan
meninggalkan temannya yang bertanya. Nindi pergi duduk dibangku belakang.
Terlihat raut wajah Nindi yang tampak murung. Riko melihat Nindi yang sedang
bersedih. Riko adalah cowok yang ia sukai. Tetapi Riko hanya terdiam.
***
Keesokan harinya, saat
istirahat sekolah tiba. Tari tiba-tiba bicara dengan Nindi. “Nin, ikut ke kantin?”. Nindi hanya menjawab dengan nada datar “saya gak ikut, lagi puasa”. Tari bersama
Anggi pergi meninggalkan Nindi. Setelah dari kantin, Tari duduk di samping
Nindi dan mengatakan “Nin, maaf ya, saya
diemin kamu”. Nindi menjawab dengan senyuman dan mengatakan iya. Namun di
hati Nindi, masih ada beban. dua hari berikutnya, hari-harinya kembali seperti
biasa, tetapi ada yang beda. Karena, Nindi dan Tari terlihat lebih sering tidak
bersama. Hari minggu, Nindi membuat sebuah status di sebuah jejaring sosial
miliknya. Ia menyindir sahabat-sahabatnya.
Hari berikutnya. Jam
pertama, mereka diperintahkan oleh gurunya untuk membuat kelompok yang terdiri
dari 4 orang. Fino, teman baik Nindi. Mengajak Nindi untuk berkelompok bareng dengan
Anggi dan Tari. Karena Anggi teman sebangku Fino. Nindi tidak terlalu memikirkan
teman kelompok. Ia masih sibuk dengan hal lain. Ia masih sibuk menjelaskan
tugas yang diberikan oleh guru. Setelah Tari menarik bangku ke dekat meja
Anggi, seketika Lia menarik bangkunya ke kelompok Fino. Nindi hanya terdiam
melihat itu dan membuat kelompok sendiri. Karena hal itu, Nindi satu kelompok
dengan Riko yang juga tidak memiliki teman kelompok. Sebelumnya Nindi sempat
heran. “Kenapa Lia memisahkan diri dengan Dian?” tanyanya dalam hati. Sementara
Dian adalah teman baiknya. Tetapi hal itu tidak dipikirkannya terlalu jauh. ia melanjutkan
tugas yang diberikan oleh gurunya. Setelah pelajaran usai. Dilajutkan oleh
pelajaran berikutnya. Saat itu, Lia dan Dian terlihat tidak pernah bersama. setelah
pelajaran terakhir,temannya menceritakan kepada Nindi, apa yang didengarnya pagi
hari sebelum bel masuk sekolah berbunyi, saat suasana kelas masih sepi. Ia
bercerita panjang lebar mengenai hal yang didengarnya. Tari, Anggi dan Lia
bicara bertiga mengenai Nindi. “Mereka akan menjauhi Nindi jika Nindi ingin
sukses sendiri” kata teman Nindi. Ia sempat bicara dengan Tari, dan Tari
mengatakan “sifat Nindi sudah berubah, dan gak seperti dulu”. Mendengar cerita temannya,
Nindi hanya terdiam dan tersenyum. Entah apa yang difikirkan Nindi.
Pulang sekolah, Nindi bertemu dengan Lia. Dian bertanya kepada Nindi
“ Nindi kamu ada masalah sama Tari?”.
Nindi menjawab dengan nada
kecewa “ Iya, dia yang memulai semua ini. kamu lagi ada masalah sama Dian?”
“ gak ada, tapi kalau aku
sudah males sama orang, males sudah” ujar Lia
Akhirnya Nindi bercerita
tentang masalah yang terjadi pada dirinya dan Tari. Dian akhirnya bercerita
masalahnya. “ Nin, saya juga kurang suka sama Tari. Bagaimana tidak. Dua hari
yang lalu kita diberi tugas, mereka berdua teman kelompok saya. Terus saya kan
masih main. Saya datangi dia dan bertanya sama dia. Kenapa gak panggil saya.?”
Sentak Tari menjawab dengan
kerasnya “ Kamu yang kemana? Dari tadi orang kerja’in tugas”
Dian bercerita, bagaimana
dia tau kalau dia tidak di panggil. Lalu dia yang disalahkan. Itu yang membuat
dia sangat tersinggung yang membuat Dian tidak suka dengan Tari dan Lia.
Setelah bercerita Dian di jemput. Sedangkan Nindi masih menunggu jemputan.
Sambil menunggu jemputan, Nindi berfikir “ berarti benar, Dian dan Lia renggang
karena ada masalah.” Tak lama Nindi di jemput.
***
Berlanjut di hari
berikutnya. Nindi menjauhkan diri. Ia masih terbayang-bayang dengan kata-kata
yang dikatakan Ratih. Dalam hati Nindi berkata “apa iya? Mereka menjadi temanku
hanya karena aku pintar? Apa mereka benar-benar manfaat’in aku?” dari kejadian itu, Nindi lebih sering bermain
dengan teman-temannya yang lain. hari-harinya tetap di jalani seperti biasa.
Setelah olah raga, mereka semua melanjutkan pelajaran berikutnya. Nindi sudah
menyelesaikan tugas yang di berikan gurunya. Yaitu tugas ke 7. Sementara
teman-temannya masih mengerjakan tugas ke 6. Nindi semakin ragu dengan
pertemanannya selama ini. Karena Tari, Anggi, dan Lia sama sekali tidak
bertanya kepada Nindi saat mereka tidak mengerti. Saat Nindi sedang sibuk, Tari
bicara dengan Nindi “ Nin, boleh aku pinjem laptopmu untuk ngeprint?”. Nindi
menjawab “iya”. Karena laptopnya dipakai Fino, Nindi tidak enak jika tidak
meminjamkannya. Keesokan harinya, mereka ulangan matematika. Mereka ulangan open
book. Tapi saat itu, Nindi memilih pindah duduk dan bergabung dengan teman
laki-lakinya. Ulangan di mulai. Dan ternyata mereka diperbolehkan diskusi.
Nindi mengerjakan ulangan sambil main dengan teman-temannya yang dominan
laki-laki. Lia bertanya kepada Nindi dan Nindi mejawabnya. beberapa kali Lia
bertanya dan Nindi terus menjawab. Jam hampir habis. Nindi mengumpulkan
ulangannya. Lalu ia kembali ketempat duduk. Teman-temannya yang lain bertanya.
Nindi pun memberi tau. Hampir seluruh temannya merapat ke Nindi untuk mencari
jawaban. Sedangkan, Tari, Anggi dan Lia tetap bertiga dan tidak ingin bergabung
dengan yang lain. Riko melihat kejadian itu semua. Akhirnya dia bertanya kepada
Dian. Dian menceritakan masalah yang terjadi. Karena dian sudah dekat dengan
Riko. Sementara itu, Tari, Anggi dan Lia sedikit kerepotan dan kesusahan. Nindi
hanya diam saja dan menguatkan dugaannya kalau mereka hanya memanfaatkan dirinya.
***
Melihat kejadian itu, Riko
hanya bisa diam. Karena riko anak yang pendiam. Fino semakin tidak mengerti apa
yang sebenarnya yang terjadi. Tetapi ia tidak ingin ikut campur terlalu jauh
tentang masalah Nindi. Riko merasa gelisah memikirkan Nindi saat ia berada
dirumahnya. Saat itu juga Nindi sedang menyendiri dikamar dan menangis. Ia menangisi
persahabatannya. Selain itu, ia juga menangisi masalah yang terjadi dalam
keluarganya. Riko mencoba menghubungi Nindi. Ia sms Nindi. Nindi yang saat itu
sedang sedih, merasakan senang walau itu hanya sedikit. Riko bertanya
keadaannya Nindi. Nindi yang merasa nyaman dengan Riko memberanikan diri untuk curhat.
Walaupun curhatnya tidak secara terang-terangan orang yang dimaksud. Tapi riko
mengerti dan mengetahuinya.
Riko mencoba menghibur
Nindi. Nindi yang tadinya menangis di penuhi air mata, sedikit demi sedikit
tersenyum dengan dukungan dan motivasi dari Riko.
***
Keesokan harinya, saat jam
istirahat. Tari ditemukan tewas di kebun belakang sekolah. Dengan keadaan
menggenaskan. Lehernya terikat kain sedangkan bagian tubuhnya tersayat-sayat
oleh beberapa bekas pisau. Bagian tangannya terpotong-potong menjadi 5 bagian.
Mayatnya ditemukan setelah penjaga sekolah pergi kekebun untuk membersihkan
kebun yang sudah lama tidak di urus. Sentak, terjadi keributan disekolah itu.
Kepala sekolah yang saat itu tidak berada ditempat membuat kejadian itu semakin
membuat semua warga sekolah ketakutan. Wakil kepala sekolah langsung
menghubungi polisi untuk mengamankan semuanya. Sementara itu, semua teman sekelas
Tari histeris melihat teman mereka menjadi seperti itu. Sampai-sampai wali
kelas mereka pingsan dan tak sadarkan diri. Tari yang melihat hal tersebut
hanya bisa terdiam dan tak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak tau apa yang harus ia
lakukan. Anggi, Lia, Dian histeris melihat teman mereka yang di mutilasi. Sedangkan Nindi hanya bisa diam melihat
kejadian yang terjadi pada Tari. Polisi datang setelah setengah jam kejadian.
Para siswa dipulangkan lebih cepat untuk menghindari kejadian yang serupa
dengan Tari. Beberapa teman Tari pingsan dan orang tuanya datang untuk menjemput.
Orang tua para siswa yang pingsan sentak terkejut melihat mayat Tari yang dimutilasi.
Orang tua Tari dihubungi setelah kejadian. Nindi pulang menggunakan angkutan
umum karena tak ada yang menjemputnya. Sepanjang perjalanan, ia berfikir, siapa
yang telah berbuat seperti itu kepada Tari. Tak lama, dia sampai di rumahnya.
Riko teman sekelasnya juga hanya diam dan tidak bisa berbuat apa-apa. Sama
halnya dengan Nindi.
***
Sore hari, orang tua dari
Anggi menghubungi Lia, sahabat Anggi.
“Nak..,,, Anggi....,, Anggi...,,
“ kata orang tua Anggi menelpon Lia.
“Anggi?? Anggi kenapa
tante?” kata Lia penasaran.
Ibu Anggi diam dan tidak
berbicara sedikit pun.terdengar suara jerit tangis yang mendalam. Kemudian Lia
bertanya lagi. Setelah pertanyaan kedua, Ibu Anggi menjawab dengan nada sangat
sedih
“ Anggi,, Anggi...,, dia meninggal.
Sentak, ia menagis dengan
sangat keras. Beberapa menit kemudian, Lia bertanya kembali.
“ Tante, Anggi.,, ke..,,
ke.. napa bisa meninggal..??” sambil ia menahan tangisannya.
“Tante gak tau penyebab
pastinya. Tapii...” Ibu Anggi kembali terdiam.
“Tapi kenapa tente..,,??
Kenapa??”
“Anggi meninggal dikamar.
Ada beberapa luka di badannya” ibu Anggi kembali menagis dengan histeris
Ayah Anggi segera
menghubungi polisi untuk meminta bantuan. Karena menurut ayah Anggi ini adalah
pembunuhan. Polisi datang dan memeriksa sudut-sudut rumah. Namun tidak
ditemukan hal yang mencurigakan. Mayat Anggi dibawa ke rumah sakit untuk di
periksa lebih lanjut. Karena ada beberapa luka lebab dan luka tusukan di
sekujur tubuh Anggi.
Beberapa hari di otopsi,
pihak rumah sakit menghubungi kepolisian dan pihak keluarga. Dan menyatakan
bahwa adanya unsur kesengajaan yang di lakukan oleh seseorang. Dan diperkirakan
tusukan di sekujur tubuh menggunakan pisau yang sudah karatan.
***
Dua siswinya meninggal
dengan cara yang sadis. Untuk itu, kepala sekolah meliburkan siswa-siswinya
untuk mengantisipasi adanya korban selanjutnya dan berpesan selalu waspada.
Nindi menyendiri di sudut
kamarnya. Menangisi semua yang terjadi. Dua sahabatnya sudah tiada. Entah
dengan siapa dia mencurahkan isi hatinya yang sangat sedih. Sementara itu,
teman-teman Anggi pergi kerumah Anggi untuk melayat. Tetapi Nindi tidak ikut.
Dia hanya mengurung dirinya. Fino teman Nindi mencoba menghubungi Nindi.
Beberapa kali di telpon dan di SMS tidak ada satupun balasan. Sedangkan Riko
datang. Riko juga ikut menghubungi Nindi tapi sama hal nya. Tidak ada balasan.
Setelah pulang melayat. Riko mencoba SMS Nindi. Dalam pesannya. Ia memberi
suport dan semangat kepada Nindi.
***
Setelah dirasa aman. Sekolah
berjalan kembali. Tetapi pengawasan lebih di perketat. Sifat Lia berubah. Dia
menjadi orang yang pendiam. Suasana kelas masih berduka. Masih banyak
teman-teman Tari dan Anggi mengingat sifat-sifat mereka. Nindi juga lebih
sering menyendiri.
Pihak kepolisian datang ke
sekolah untuk penyelesaian masalah. Polisi melakukan olah TKP di sekolah karena
2 siswi sekolah tersebut. Dan besar kemungkinan bahwa pembunuhnya adalah warga
sekolah. Tapi belum dipastikan siapa yang melakukan.
Setelah dilakukan
penyelidikan, tidak ditemukan satupun tersangka. Akhirnya pencariaan pembunuh
dihentikan sementara. Beberapa hari kemudian seorang siswa menemukan sebuah
benda tajam yang berlumuran darah di belakang sekolah yang di baluti oleh kain
hitam dan dibungkus kertas .plastik berwana hitam. Lantas siswa itu melaporkan
hal tersebut. Dengan segera kepala sekolah menghubungi pihak polisi dan polisi
menduga pembunuh 2 siswi itu kemungkinan siswa dari sekolah itu. Sentak kepala
sekolah dan beberapa orang yang mendengar terkejut . mereka tidak percaya bahwa
salah seorang siswanya membunuh siswa lain. Penyelidikan dilakukan kembali dan
lebih di perketat. Teman-teman Tari dan Anggi di introgasi. Nindi pada saat
diintrogasi menangis. Dan di tuduh oleh Fino bahwa ia telah membunuh Tari dan
Anggi. Nindi menyangkalnya dan hanya menangis sendirian. Lantas Riko membela
Nindi, tidak peduli ada atau tidaknya polisi. Karena Riko juga mencintai Nindi.
***
Kematian salah seorang teman
mereka kembali terjadi. Fino tidak pernah pulang selama 2 hari. Dan ternyata
mayatnya ditemukan di sebuah jalan yang hampir jarang dilalui oleh seseorang.
sehari kemudian, winda ditemukan tewas di belakang sekolah tepat di tempat
mayatnya Tari ditemukan. Polisi makin menguatkan dugaannya bahwa pembunuhnya
adalah siswa sekolah itu sendiri.
Dua hari kemudian, Riko
berjalan ditengah malam sebuah jalanan yang amat sepi. Sambil menggeret satu
bungkusan yang digeret nya. Ia membawa ke sebuah jurang yang terjal. Dan
ternyata itu adalah mayat kiki. Kiki teman mereka yang sering membuat Nindi
kesal.
***
Keesokan harinya Nadine
sedang pergi ke toilet, saat ia berjalan, ia melihat Riko membawa sesuatu
ditangannya. Nadine yang penasaran mengikuti kemana Riko pergi. Sentak, tak
lama Nadine melihat temannya sendiri menusukkan pisau ke bagian dada temannya
yaitu wadi. Nadine tidak dapat berbuat apa-apa. Ia langsung pergi dan
melaporkan kejadian itu kepada kepala sekolah. Kepala sekolah mendatangi tempat
kejadian. Dengan kagetnya, kepala sekolah melihat langsung apa yang dilakukan
Riko. Badan Riko masih berlumuran darah bekas cipratan dari tusukan yang
dilakukan berkali-kali oleh Riko
sendiri. Siswa-siswi lain khususnya teman sekelas mereka tercengang melihat apa
yang dilakukan Riko. Sentak Nindi pun terkejut melihat yang dilakukan Riko.
Riko yang ia cintai dan ia percaya selama ini adalah pembunuh teman-temannnya.
Riko melihat Nindi dan menagis. Nindi yang mengeluarkan air mata, seakan-akan
tidak percaya bahwa itu semua kejadian nya. Riko mendekati Nindi. Bertekuk lutut
meminta maaf. Kepala sekolah langsung membawanya ke kantor untuk di introgasi.
Tak lama polisi datang dan melakukan introgasi.
“mengapa kamu melakukan hal
tersebut?, apa kamu sadar melakukannya?” tanya polisi kepada Riko
Dengan berlinang air mata,
Riko menjawab “iya”
Sentak, polisi dan kepala
sekolah terkejut. Dan Riko dibawa ke kantor polisi untuk ditindak lanjuti.
Sementara itu, mayat Wadi dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan otopsi.
***
Nindi kembali kekelas dan
menangis tersedu-sedu. Ia masih tidak percaya bahwa pembunuh nya adalah Riko.
Sama halnya dengan Nindi. Teman-teman mereka yang lainpun tidak percaya. Tetapi
Nadine menjelaskan dan menceritakan apa yang ia lihat. Tiga hari berlalu,
akhirnya polisi memutuskan bahwa “Riko adalah pembunuh dari semua
teman-temannya. Ia telah membunuh 5 temannya sendiri dengan sadar”.
Sentak kepala sekolah dan
seluruh guru terkejut. Guru-gurunya berpendapat bahwa Riko adalah siswa yang
pendiam dan tidak suka membuat onar. Dan kepolisian telah memutuskan bahwa Riko
dipenjara seumur hidup karena telah melakukan pembunuhan dengan sadar.
***THE END***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar