Senin, 02 Juni 2014

Cepen ku yang ke-3

Penghianatan
Nindi adalah sahabat baik Anggi dan Tari. Mereka selalu bersama. Entah disekolah ataupun diluar sekolah. Persahabatannya sudah cukup erat. Walau mereka belum lama saling mengenal. Mereka telah bersahabat hampir 6 bulan lamanya. mereka sering kumpul bersama dan mengadakan kerja kelompok. Di sela-sela mereka berkumpul, banyak hal yang di ceritakan oleh mereka bertiga. Entah itu masalah pelajaran, ataupun teman-teman mereka. Mereka bertiga termasuk siswi yang pintar dikelasnya. Terutama Nindi. Nindi sering diminta oleh guru untuk mengajarkan teman-temannya. Semester 2  tahun ajaran 2013/2014, mereka disibukkan dengan praktek. Suatu ketika, mereka diberikan tugas praktek yang dikerjakan secara individu. Saat itu Tari bertanya kepada Nindi dan Nindi memberi tau Tari. Beberapa kali Tari bertanya, dan selalu dijawab Nindi. Setelah beberapa kali bertanya, Tari ingin melihat pekerjaan Nindi. saat itu Nindi lagi tidak ingin memberi lembar kerjanya. Akhirnya Tari ngambek. Mulai dari pelajaran itu sampai pulang sekolah, Tari tidak menyapa Nindi. Nindi mengetahui itu dan hanya terdiam. Karena Nindi sudah tau sifatnya.  Keesokan harinya, Nindi menjauhi Tari dan Anggi. Entah apakah Anggi juga mendiamkannya atau tidak. Perselisihan ini semakin terlihat dan beberapa temannya mengetahui hal itu termasuk laki-laki yang Nindi suka. Guru mereka menyuruh membuat kelompok dan Nindi berkelompok dengan teman-temannya yang dibelakang. Setelah pelajaran selesai. Nindi tetap duduk dibelakang. Ada temannya yang bertanya “Nin, kenapa kamu duduk dibelakang?”. Pertanyaan itu tidak dirisaukannya dan meninggalkan temannya yang bertanya. Nindi pergi duduk dibangku belakang. Terlihat raut wajah Nindi yang tampak murung. Riko melihat Nindi yang sedang bersedih. Riko adalah cowok yang ia sukai. Tetapi Riko hanya terdiam.
***
Keesokan harinya, saat istirahat sekolah tiba. Tari tiba-tiba bicara dengan Nindi. “Nin, ikut ke kantin?”.  Nindi hanya menjawab dengan nada datar “saya gak ikut, lagi puasa”. Tari bersama Anggi pergi meninggalkan Nindi. Setelah dari kantin, Tari duduk di samping Nindi dan mengatakan “Nin, maaf ya, saya diemin kamu”. Nindi menjawab dengan senyuman dan mengatakan iya. Namun di hati Nindi, masih ada beban. dua hari berikutnya, hari-harinya kembali seperti biasa, tetapi ada yang beda. Karena, Nindi dan Tari terlihat lebih sering tidak bersama. Hari minggu, Nindi membuat sebuah status di sebuah jejaring sosial miliknya. Ia menyindir sahabat-sahabatnya.
Hari berikutnya. Jam pertama, mereka diperintahkan oleh gurunya untuk membuat kelompok yang terdiri dari 4 orang. Fino, teman baik Nindi. Mengajak Nindi untuk berkelompok bareng dengan Anggi dan Tari. Karena Anggi teman sebangku Fino. Nindi tidak terlalu memikirkan teman kelompok. Ia masih sibuk dengan hal lain. Ia masih sibuk menjelaskan tugas yang diberikan oleh guru. Setelah Tari menarik bangku ke dekat meja Anggi, seketika Lia menarik bangkunya ke kelompok Fino. Nindi hanya terdiam melihat itu dan membuat kelompok sendiri. Karena hal itu, Nindi satu kelompok dengan Riko yang juga tidak memiliki teman kelompok. Sebelumnya Nindi sempat heran. “Kenapa Lia memisahkan diri dengan Dian?” tanyanya dalam hati. Sementara Dian adalah teman baiknya. Tetapi hal itu tidak dipikirkannya terlalu jauh. ia melanjutkan tugas yang diberikan oleh gurunya. Setelah pelajaran usai. Dilajutkan oleh pelajaran berikutnya. Saat itu, Lia dan Dian terlihat tidak pernah bersama. setelah pelajaran terakhir,temannya menceritakan kepada Nindi, apa yang didengarnya pagi hari sebelum bel masuk sekolah berbunyi, saat suasana kelas masih sepi. Ia bercerita panjang lebar mengenai hal yang didengarnya. Tari, Anggi dan Lia bicara bertiga mengenai Nindi. “Mereka akan menjauhi Nindi jika Nindi ingin sukses sendiri” kata teman Nindi. Ia sempat bicara dengan Tari, dan Tari mengatakan “sifat Nindi sudah berubah, dan gak seperti dulu”. Mendengar cerita temannya, Nindi hanya terdiam dan tersenyum. Entah apa yang difikirkan Nindi.
Pulang sekolah, Nindi  bertemu dengan Lia. Dian bertanya kepada Nindi “ Nindi kamu ada masalah sama Tari?”.
Nindi menjawab dengan nada kecewa “ Iya, dia yang memulai semua ini. kamu lagi ada masalah sama Dian?” 
“ gak ada, tapi kalau aku sudah males sama orang, males sudah” ujar Lia
Akhirnya Nindi bercerita tentang masalah yang terjadi pada dirinya dan Tari. Dian akhirnya bercerita masalahnya. “ Nin, saya juga kurang suka sama Tari. Bagaimana tidak. Dua hari yang lalu kita diberi tugas, mereka berdua teman kelompok saya. Terus saya kan masih main. Saya datangi dia dan bertanya sama dia. Kenapa gak panggil saya.?”
Sentak Tari menjawab dengan kerasnya “ Kamu yang kemana? Dari tadi orang kerja’in tugas”
Dian bercerita, bagaimana dia tau kalau dia tidak di panggil. Lalu dia yang disalahkan. Itu yang membuat dia sangat tersinggung yang membuat Dian tidak suka dengan Tari dan Lia. Setelah bercerita Dian di jemput. Sedangkan Nindi masih menunggu jemputan. Sambil menunggu jemputan, Nindi berfikir “ berarti benar, Dian dan Lia renggang karena ada masalah.” Tak lama Nindi di jemput.
***
Berlanjut di hari berikutnya. Nindi menjauhkan diri. Ia masih terbayang-bayang dengan kata-kata yang dikatakan Ratih. Dalam hati Nindi berkata “apa iya? Mereka menjadi temanku hanya karena aku pintar? Apa mereka benar-benar manfaat’in aku?”  dari kejadian itu, Nindi lebih sering bermain dengan teman-temannya yang lain. hari-harinya tetap di jalani seperti biasa. Setelah olah raga, mereka semua melanjutkan pelajaran berikutnya. Nindi sudah menyelesaikan tugas yang di berikan gurunya. Yaitu tugas ke 7. Sementara teman-temannya masih mengerjakan tugas ke 6. Nindi semakin ragu dengan pertemanannya selama ini. Karena Tari, Anggi, dan Lia sama sekali tidak bertanya kepada Nindi saat mereka tidak mengerti. Saat Nindi sedang sibuk, Tari bicara dengan Nindi “ Nin, boleh aku pinjem laptopmu untuk ngeprint?”. Nindi menjawab “iya”. Karena laptopnya dipakai Fino, Nindi tidak enak jika tidak meminjamkannya. Keesokan harinya, mereka ulangan matematika. Mereka ulangan open book. Tapi saat itu, Nindi memilih pindah duduk dan bergabung dengan teman laki-lakinya. Ulangan di mulai. Dan ternyata mereka diperbolehkan diskusi. Nindi mengerjakan ulangan sambil main dengan teman-temannya yang dominan laki-laki. Lia bertanya kepada Nindi dan Nindi mejawabnya. beberapa kali Lia bertanya dan Nindi terus menjawab. Jam hampir habis. Nindi mengumpulkan ulangannya. Lalu ia kembali ketempat duduk. Teman-temannya yang lain bertanya. Nindi pun memberi tau. Hampir seluruh temannya merapat ke Nindi untuk mencari jawaban. Sedangkan, Tari, Anggi dan Lia tetap bertiga dan tidak ingin bergabung dengan yang lain. Riko melihat kejadian itu semua. Akhirnya dia bertanya kepada Dian. Dian menceritakan masalah yang terjadi. Karena dian sudah dekat dengan Riko. Sementara itu, Tari, Anggi dan Lia sedikit kerepotan dan kesusahan. Nindi hanya diam saja dan menguatkan dugaannya kalau mereka hanya memanfaatkan dirinya.
***
Melihat kejadian itu, Riko hanya bisa diam. Karena riko anak yang pendiam. Fino semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya yang terjadi. Tetapi ia tidak ingin ikut campur terlalu jauh tentang masalah Nindi. Riko merasa gelisah memikirkan Nindi saat ia berada dirumahnya. Saat itu juga Nindi sedang menyendiri dikamar dan menangis. Ia menangisi persahabatannya. Selain itu, ia juga menangisi masalah yang terjadi dalam keluarganya. Riko mencoba menghubungi Nindi. Ia sms Nindi. Nindi yang saat itu sedang sedih, merasakan senang walau itu hanya sedikit. Riko bertanya keadaannya Nindi. Nindi yang merasa nyaman dengan Riko memberanikan diri untuk curhat. Walaupun curhatnya tidak secara terang-terangan orang yang dimaksud. Tapi riko mengerti dan mengetahuinya.
Riko mencoba menghibur Nindi. Nindi yang tadinya menangis di penuhi air mata, sedikit demi sedikit tersenyum dengan dukungan dan motivasi dari Riko.
***
Keesokan harinya, saat jam istirahat. Tari ditemukan tewas di kebun belakang sekolah. Dengan keadaan menggenaskan. Lehernya terikat kain sedangkan bagian tubuhnya tersayat-sayat oleh beberapa bekas pisau. Bagian tangannya terpotong-potong menjadi 5 bagian. Mayatnya ditemukan setelah penjaga sekolah pergi kekebun untuk membersihkan kebun yang sudah lama tidak di urus. Sentak, terjadi keributan disekolah itu. Kepala sekolah yang saat itu tidak berada ditempat membuat kejadian itu semakin membuat semua warga sekolah ketakutan. Wakil kepala sekolah langsung menghubungi polisi untuk mengamankan semuanya. Sementara itu, semua teman sekelas Tari histeris melihat teman mereka menjadi seperti itu. Sampai-sampai wali kelas mereka pingsan dan tak sadarkan diri. Tari yang melihat hal tersebut hanya bisa terdiam dan tak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan. Anggi, Lia, Dian histeris melihat teman mereka yang di mutilasi.  Sedangkan Nindi hanya bisa diam melihat kejadian yang terjadi pada Tari. Polisi datang setelah setengah jam kejadian. Para siswa dipulangkan lebih cepat untuk menghindari kejadian yang serupa dengan Tari. Beberapa teman Tari pingsan dan orang tuanya datang untuk menjemput. Orang tua para siswa yang pingsan sentak terkejut melihat mayat Tari yang dimutilasi. Orang tua Tari dihubungi setelah kejadian. Nindi pulang menggunakan angkutan umum karena tak ada yang menjemputnya. Sepanjang perjalanan, ia berfikir, siapa yang telah berbuat seperti itu kepada Tari. Tak lama, dia sampai di rumahnya. Riko teman sekelasnya juga hanya diam dan tidak bisa berbuat apa-apa. Sama halnya dengan Nindi.
***
Sore hari, orang tua dari Anggi menghubungi Lia, sahabat Anggi.
“Nak..,,, Anggi....,, Anggi...,, “ kata orang tua Anggi menelpon Lia.
“Anggi?? Anggi kenapa tante?” kata Lia penasaran.
Ibu Anggi diam dan tidak berbicara sedikit pun.terdengar suara jerit tangis yang mendalam. Kemudian Lia bertanya lagi. Setelah pertanyaan kedua, Ibu Anggi menjawab dengan nada sangat sedih
 “ Anggi,, Anggi...,, dia meninggal.
Sentak, ia menagis dengan sangat keras. Beberapa menit kemudian, Lia bertanya kembali.
“ Tante, Anggi.,, ke..,, ke.. napa bisa meninggal..??” sambil ia menahan tangisannya.
“Tante gak tau penyebab pastinya. Tapii...” Ibu Anggi kembali terdiam.
“Tapi kenapa tente..,,?? Kenapa??”
“Anggi meninggal dikamar. Ada beberapa luka di badannya” ibu Anggi kembali menagis dengan histeris
Ayah Anggi segera menghubungi polisi untuk meminta bantuan. Karena menurut ayah Anggi ini adalah pembunuhan. Polisi datang dan memeriksa sudut-sudut rumah. Namun tidak ditemukan hal yang mencurigakan. Mayat Anggi dibawa ke rumah sakit untuk di periksa lebih lanjut. Karena ada beberapa luka lebab dan luka tusukan di sekujur tubuh Anggi.
Beberapa hari di otopsi, pihak rumah sakit menghubungi kepolisian dan pihak keluarga. Dan menyatakan bahwa adanya unsur kesengajaan yang di lakukan oleh seseorang. Dan diperkirakan tusukan di sekujur tubuh menggunakan pisau yang sudah karatan.
***
Dua siswinya meninggal dengan cara yang sadis. Untuk itu, kepala sekolah meliburkan siswa-siswinya untuk mengantisipasi adanya korban selanjutnya dan berpesan selalu waspada.
Nindi menyendiri di sudut kamarnya. Menangisi semua yang terjadi. Dua sahabatnya sudah tiada. Entah dengan siapa dia mencurahkan isi hatinya yang sangat sedih. Sementara itu, teman-teman Anggi pergi kerumah Anggi untuk melayat. Tetapi Nindi tidak ikut. Dia hanya mengurung dirinya. Fino teman Nindi mencoba menghubungi Nindi. Beberapa kali di telpon dan di SMS tidak ada satupun balasan. Sedangkan Riko datang. Riko juga ikut menghubungi Nindi tapi sama hal nya. Tidak ada balasan. Setelah pulang melayat. Riko mencoba SMS Nindi. Dalam pesannya. Ia memberi suport dan semangat kepada Nindi.
***
Setelah dirasa aman. Sekolah berjalan kembali. Tetapi pengawasan lebih di perketat. Sifat Lia berubah. Dia menjadi orang yang pendiam. Suasana kelas masih berduka. Masih banyak teman-teman Tari dan Anggi mengingat sifat-sifat mereka. Nindi juga lebih sering menyendiri.
Pihak kepolisian datang ke sekolah untuk penyelesaian masalah. Polisi melakukan olah TKP di sekolah karena 2 siswi sekolah tersebut. Dan besar kemungkinan bahwa pembunuhnya adalah warga sekolah. Tapi belum dipastikan siapa yang melakukan.
Setelah dilakukan penyelidikan, tidak ditemukan satupun tersangka. Akhirnya pencariaan pembunuh dihentikan sementara. Beberapa hari kemudian seorang siswa menemukan sebuah benda tajam yang berlumuran darah di belakang sekolah yang di baluti oleh kain hitam dan dibungkus kertas .plastik berwana hitam. Lantas siswa itu melaporkan hal tersebut. Dengan segera kepala sekolah menghubungi pihak polisi dan polisi menduga pembunuh 2 siswi itu kemungkinan siswa dari sekolah itu. Sentak kepala sekolah dan beberapa orang yang mendengar terkejut . mereka tidak percaya bahwa salah seorang siswanya membunuh siswa lain. Penyelidikan dilakukan kembali dan lebih di perketat. Teman-teman Tari dan Anggi di introgasi. Nindi pada saat diintrogasi menangis. Dan di tuduh oleh Fino bahwa ia telah membunuh Tari dan Anggi. Nindi menyangkalnya dan hanya menangis sendirian. Lantas Riko membela Nindi, tidak peduli ada atau tidaknya polisi. Karena Riko juga mencintai Nindi.
***
Kematian salah seorang teman mereka kembali terjadi. Fino tidak pernah pulang selama 2 hari. Dan ternyata mayatnya ditemukan di sebuah jalan yang hampir jarang dilalui oleh seseorang. sehari kemudian, winda ditemukan tewas di belakang sekolah tepat di tempat mayatnya Tari ditemukan. Polisi makin menguatkan dugaannya bahwa pembunuhnya adalah siswa sekolah itu sendiri.
Dua hari kemudian, Riko berjalan ditengah malam sebuah jalanan yang amat sepi. Sambil menggeret satu bungkusan yang digeret nya. Ia membawa ke sebuah jurang yang terjal. Dan ternyata itu adalah mayat kiki. Kiki teman mereka yang sering membuat Nindi kesal.
***
Keesokan harinya Nadine sedang pergi ke toilet, saat ia berjalan, ia melihat Riko membawa sesuatu ditangannya. Nadine yang penasaran mengikuti kemana Riko pergi. Sentak, tak lama Nadine melihat temannya sendiri menusukkan pisau ke bagian dada temannya yaitu wadi. Nadine tidak dapat berbuat apa-apa. Ia langsung pergi dan melaporkan kejadian itu kepada kepala sekolah. Kepala sekolah mendatangi tempat kejadian. Dengan kagetnya, kepala sekolah melihat langsung apa yang dilakukan Riko. Badan Riko masih berlumuran darah bekas cipratan dari tusukan yang dilakukan  berkali-kali oleh Riko sendiri. Siswa-siswi lain khususnya teman sekelas mereka tercengang melihat apa yang dilakukan Riko. Sentak Nindi pun terkejut melihat yang dilakukan Riko. Riko yang ia cintai dan ia percaya selama ini adalah pembunuh teman-temannnya. Riko melihat Nindi dan menagis. Nindi yang mengeluarkan air mata, seakan-akan tidak percaya bahwa itu semua kejadian nya. Riko mendekati Nindi. Bertekuk lutut meminta maaf. Kepala sekolah langsung membawanya ke kantor untuk di introgasi. Tak lama polisi datang dan melakukan introgasi.
“mengapa kamu melakukan hal tersebut?, apa kamu sadar melakukannya?” tanya polisi kepada Riko
Dengan berlinang air mata, Riko menjawab “iya”
Sentak, polisi dan kepala sekolah terkejut. Dan Riko dibawa ke kantor polisi untuk ditindak lanjuti. Sementara itu, mayat Wadi dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan otopsi.
***
Nindi kembali kekelas dan menangis tersedu-sedu. Ia masih tidak percaya bahwa pembunuh nya adalah Riko. Sama halnya dengan Nindi. Teman-teman mereka yang lainpun tidak percaya. Tetapi Nadine menjelaskan dan menceritakan apa yang ia lihat. Tiga hari berlalu, akhirnya polisi memutuskan bahwa “Riko adalah pembunuh dari semua teman-temannya. Ia telah membunuh 5 temannya sendiri dengan sadar”.
Sentak kepala sekolah dan seluruh guru terkejut. Guru-gurunya berpendapat bahwa Riko adalah siswa yang pendiam dan tidak suka membuat onar. Dan kepolisian telah memutuskan bahwa Riko dipenjara seumur hidup karena telah melakukan pembunuhan dengan sadar.

***THE END***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar