KUTUKAN VILLA TUA
Malam
hari itu Dio dan Rasti mengajak Fiko, Wiwik, dan Naya ke villanya Rasti yang
ada di puncak untuk berlibur. Semuanya dengan antusias ingin ikut. Dan malam
itu merekapun berangkat. Tak lama, sekitar 2 jam perjalanan mereka sampai di
villa milik Rasti. Sekitar jam 10 malam mereka sampai dan penjaga villa telah
berada disana. Ia dipesan untuk tidak berbuat macam-macam dan keributan.
Semuanya mengiyakan penjaga villa. Rasti ke kamarnya di atas, bersama Wiwik dan
Naya. Sedangkan Dio dan Fiko di bawah. Sesampainya disana mereka istirahat.
Tapi mereka semua belum tidur dan mereka pun berkumpul di depan tv dan menonton
tv. Wiwik prgi ke toilet. Keluar dari toilet terdengar suara aneh dan Wiwik
lari ketakutan. Teman-temannya binggung dan menayakan apa yang terjadi kepada Wiwik.
Wiwik menceritakan hal tersebut. Namun hal itu di bantah oleh Rasti “mugkin itu hanya imajinasimu.” Tak lama
hujan turun. Tetes-teses air hujan membuat suasana menjadi seram bagi Wiwik.
Jam 11.30 malam Naya pergi ke dapur untuk membuatkan teman-temannya minuman.
Dan sentak Naya terkejut. Saat ia berbalik badan Dio mengejutkannya. “hampir saja jantung saya gak copot”
seketika naya berucap. Naya mulai merasakan keanehan pada villa tersebut dan
dia mulai percaya dengan apa yang dikatakan Wiwik. Tak lama mereka pergi ke kamar
masing –masing untuk tidur. Dio, Fiko, Rasti sudah tertidur lelap. Sedangkan
Wiwik dan Naya masih terbangun dna waswas di kamar masing-masing. Ia takut ada
hal yang akan terjadi. Wiwik keluar kamar. Mencari temannya yang masih bangun.
Saat keluar kamar. Ia berjalan di lorong kamar.
Ia melihat sosok berwarna hitam. Sentak ia pun teriak sekencang
–kencangnya dan Fiko, Rasti, dan Dio terbangun dan langsung menghampiri sumber
suara. Sedangkan Naya tetap di kamar. Ia tak mendengar suara apa pun.
***
Suara
pintu kamar Naya seperti ada yang memukul –mukul. Sentak Naya bangun dari
tidurnya dan duduk ketakutan. Suara itu terus terpukul berulang kali. “siapa itu?” dengan takutnya Naya
memberanikan diri bertanya. Tak ada suara ataupun jawaban. Pintu itu terus
terketuk. Lalu Naya melemparkan jam yang berada dimeja ke pintu. Pintu itu lalu
terbuka seperti didorong dengan keras. Naya pun terkejut dan pingsan.
Teman-teman mereka mendengar suara itu dan langsung ke atas. Di lihatnya tangan Naya memar bekas
beberapa jari tangan. Hal ini membuat Wiwik tambah khawatir dan ketakutan. “ahhhh.......,, apa mau kamu..., kami disini
hanya berlibur..., jangan ganggu kami!!” wiwik teriak seperti itu. suara
hembusan angin membuat suasana makin seram. Suara menjadi sunyi dan tak ada
suara air hujan. “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA......”
suara di kamar itu sangat melengking. Entah suara siapa. Mereka semua ketakutan
dan mencoba pergi. Pintu kamar Naya tertutup. Dan mereka terperangkap di kamar
itu. hujan pun turun seketika dengan derasnya. Suara pintu yang menggedor
kembali terdengar. Tapi pukulan itu lebih cepat dan lebih keras. Setelah pukulan
beberapa kali di iringi dengan hujan yang amat deras. Seketika berhenti. Hujan
yang tadinya deras juga berhenti. Dio mencoba melihat keadaan. Saat Dio baru
meletakkan tangannya di gagang pintu sentak Dio terkejut. Kapak tepat berada di
depanya. Jantung Dio berdebar dengan kencang. Dio mengurungkan niatnya dan
kembali. Mukanya pucat. Naya terbagun, muka pucat dan seperti orang melamun. Ia
bangun dari tidurnya dan duduk. Tatapan mata Naya berbeda. “pergi kalian dari rumah ini” dengan gemetar Rasti bertanya “kenapa...?? nay..,, kamu kenapa? Sadar
nay.. sadar..” sambil memegang Naya. “dia
telah pergi”. “apa maksudmu nay..?”
Wiwik bertanya lagi. “PERGII.....”
mereka semua lari ke lantai bawah.
***
pintu villa itu terkunci. Dio lari mengambil benda
di dapur untuk membuka pintu. Ia membongkar semua, sentak ia terkejut melihat
sosok tinggi besar bewarna hitam, rambut panjang, dan mata yang menyala. Dio
terdiam dan kaku. Ia tidak dapat bergerak. Naya datang membawa kapak dan
seketika menebas leher Dio. Naya lalu pergi dengan ekspresi datar dan melepas
kapak itu. Sedangkan teman-temannya yang lain masih meronta dan berteriak minta
bantuan.
“eh tunggu..,,” ujar Rasti.
“apa..?, kita harus keluar dari villa
ini.”
Fiko menjawab dengan nafas ngosngosan.
“dio..., dio mana?? Kenapa dia belum
balik.”
Jawab Rasti khawatir
“aku susul dia” fiko menjawab
“jangan...., kamu diam disini saja” Wiwik menjawab
dengan ketakutan
Fiko
tidak menghiraukan Wiwik dan mencari Dio. “Dio...,
Dio...” Fiko memanggil manggil Dio.
Rasti
ingin pergi ke toilet. “Rasti, mau
kemana. Diem sini..”
“aku ke toilet bentar, gak tahan ni, kamu
diem disini aja, nanti Fiko nyari’in lagi”
“aku..., aku.. gak berani”
“ah.. manja banget sih kamu,, tunggu
disini.”
Rasti pun pergi ke toilet
Sentak
Fiko terkejut. Lumuran darah di dapur mengejutkan Fiko. “Dio..., io....,, Dio...
kamu dimana io. Dio...” Fiko lalu terjatuh seperti ditarik. Terlihat sosok yang
dilihat Dio tadi. “AAAAAAAAAAAAAAAAAA......”
Rasti
mencuci mukanya di wastafel, saat ia melihat cermin.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA.....”
Dilihat
sosok wanita tidak memiliki tangan dan setengah badan di belakangnya. Rasti
mencoba membuka pintu toilet tetapi tidak bisa.
Sentak
Wiwik terkejut mendengar dua temannya yang teriak bersamaan. “tolong..., tolong...” sambil memukul-mukul
pintu villa.
Suasana
villa itu sepi, tidak ada terdengar suara apapun. Wiwik memberanikan diri
mencari Rasti di toilet. Wiwik menggedor-gedor pintu toilet “Rasti....Rasti..”
dengan pelan Wiwik memangil Rasti. Tapi tidak ada jawaban apapun. Wiwik lalu
pergi ke dapur. “Fiko.., Dio..., Fiko...”
Tak
ada ditemukan siapapun disana. Hanya dapur yang berantakan. Darah yang dilihat
oleh Fiko tadi tidak ada. Saat Wiwik berbalik arah, untuk kembali ke pintu depan.
Seketika bayangan hitam lewat di belakangnya. Sentak Wiwik berbalik arah, tapi
tidak ada satu orang pun disana. Wiwik segera kembali ke pintu dan meminta
bantuan. “tolong..,, tolong...” Wiwik terus berteriak meminta tolong. Naya
datang membawa sebuah kapak. “Naya..” Wiwik mundur dari tempatnya berdiri.
Diangkat kapak itu ke arah Wiwik. Tongkat kayu dibelakangnya diambil untuk
menghindari kapak itu. dan Wiwik memukul pundak Naya. Naya pun pingsan. Wiwik
coba membuka jendela, tetapi tidak bisa. Warga sekitar villa lewat di depan
villa itu, dan Wiwik segera meminta bantuan. Warga itu pun segera membantu. Dan
akhirnya wiwik bisa keluar dari villa itu
***
“Nak, kamu ngapain di villa ini?” tanya salah satu
warga
“saya liburan disini pak..,
teman-teman saya...” ujar Wiwik lemas
“teman-teman kamu disana?” tanya warga kaget
“ ya, emangnya kenama pak?” tanyanya heran
Seorang
warga pun menjelaskan sambil mengajak Wiwik ke kantor desa. “villa itu sudah 10 tahun ditinggal
pemiliknya dan tidak ada yang mengurusnya sehingga konon villa itu angker.
Banyak warga yang sudah melihat penampakan di villa itu. dan villa itu dikunci,
tidak ada yang bisa membukanya. Terus kamu dapet kuncinya dari siapa?”
tanya warga itu
“kemarin ada penjaga villa yang
menunggu kami untuk memberikan kunci. Namanya pak Burhan.”
Sentak
warga itu terkejut dan bertanya “adek
datang kesini jam berapa?”
“Sekitar jam 10 malam. Ada apa pak?”
“Nanti saya jelaskan di kantor desa”
Mereka
sampai di kantor desa. Waktu sudah subuh. Terlebih dahulu mereka sholat
berjamaah di musholla. Dan kepala desa menjelaskan semua hal itu di musholla. Ternyata penjaga villa yang dimaksud Wiwik itu
memang penjaga villa. Tetapi dia sudah lama meninggal. “Sekitar 10 tahun yang lalu bersamaan dengan villa yang mulai angker.
pak Burhan adalah warga sini, dia sering
menggunakan ilmu hitam untuk menarik perhatian orang yang menginap di villa
itu. Dan entah apa masalahnya dengan majikannya, pak Burhan dibunuh oleh
majikannya itu dan ia mengutuk villa itu “siapapun yang berani menginap di
villa ini, maka saya akan membalaskan dendam saya” itu kata pak burhan”,
ujar pak kepala desa menjelaskan. Sedangkan majikannya meninggal di
persimpangan jalan karena kecelakaan. Setelah dijelaskan Wiwik kemudian bertanya
“terus, bagaimana teman-teman saya?”
“sudah, biarkan mereka,mereka semua
sudah mati” kata warga menjawab.
Wiwik
menolak dan ingin mencari teman-temannya. Warga sekitar ikut membantu mencari
teman-temannya. Tapi, tak sedikit pun tanda bahwa ada orang disana. Villa itu
kembali rapi. Dengan dipenuhi debu dan sarang laba-laba. Akhirnya Wiwik di
suruh segera pulang ke kota sebelum malam sampai kota dan cuaca sudah mulai mendung.
Dengan menggunakan mobil Dio, Wiwik pun pergi ke kota. Ia bertemu hujan yang
cukup deras. “AAHH...,, apa tadi?” Wiwik
ngrem mendadak. Seperti ada sesuatu. Wiwik turun dari mobil dan tidak ditemukan
apa-apa. Saat akan naik mobil. Warna hujan berganti menjadi merah. Seperti
darah. Wiwik segera masuk mobil. “AHH,,
imajinasi aja” Ia melanjutkan perjalanannya. Dan hujannya kembali berwarna
seperti biasanya.
THE
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar