Rabu, 11 Juni 2014

Cerpenku yang ke-4

KUTUKAN VILLA TUA
Malam hari itu Dio dan Rasti mengajak Fiko, Wiwik, dan Naya ke villanya Rasti yang ada di puncak untuk berlibur. Semuanya dengan antusias ingin ikut. Dan malam itu merekapun berangkat. Tak lama, sekitar 2 jam perjalanan mereka sampai di villa milik Rasti. Sekitar jam 10 malam mereka sampai dan penjaga villa telah berada disana. Ia dipesan untuk tidak berbuat macam-macam dan keributan. Semuanya mengiyakan penjaga villa. Rasti ke kamarnya di atas, bersama Wiwik dan Naya. Sedangkan Dio dan Fiko di bawah. Sesampainya disana mereka istirahat. Tapi mereka semua belum tidur dan mereka pun berkumpul di depan tv dan menonton tv. Wiwik prgi ke toilet. Keluar dari toilet terdengar suara aneh dan Wiwik lari ketakutan. Teman-temannya binggung dan menayakan apa yang terjadi kepada Wiwik. Wiwik menceritakan hal tersebut. Namun hal itu di bantah oleh Rasti “mugkin itu hanya imajinasimu.” Tak lama hujan turun. Tetes-teses air hujan membuat suasana menjadi seram bagi Wiwik. Jam 11.30 malam Naya pergi ke dapur untuk membuatkan teman-temannya minuman. Dan sentak Naya terkejut. Saat ia berbalik badan Dio mengejutkannya. “hampir saja jantung saya gak copot” seketika naya berucap. Naya mulai merasakan keanehan pada villa tersebut dan dia mulai percaya dengan apa yang dikatakan Wiwik. Tak lama mereka pergi ke kamar masing –masing untuk tidur. Dio, Fiko, Rasti sudah tertidur lelap. Sedangkan Wiwik dan Naya masih terbangun dna waswas di kamar masing-masing. Ia takut ada hal yang akan terjadi. Wiwik keluar kamar. Mencari temannya yang masih bangun. Saat keluar kamar. Ia berjalan di lorong kamar.  Ia melihat sosok berwarna hitam. Sentak ia pun teriak sekencang –kencangnya dan Fiko, Rasti, dan Dio terbangun dan langsung menghampiri sumber suara. Sedangkan Naya tetap di kamar. Ia tak mendengar suara apa pun.
***
Suara pintu kamar Naya seperti ada yang memukul –mukul. Sentak Naya bangun dari tidurnya dan duduk ketakutan. Suara itu terus terpukul berulang kali. “siapa itu?” dengan takutnya Naya memberanikan diri bertanya. Tak ada suara ataupun jawaban. Pintu itu terus terketuk. Lalu Naya melemparkan jam yang berada dimeja ke pintu. Pintu itu lalu terbuka seperti didorong dengan keras. Naya pun terkejut dan pingsan. Teman-teman mereka mendengar suara itu dan langsung  ke atas. Di lihatnya tangan Naya memar bekas beberapa jari tangan. Hal ini membuat Wiwik tambah khawatir dan ketakutan. “ahhhh.......,, apa mau kamu..., kami disini hanya berlibur..., jangan ganggu kami!!” wiwik teriak seperti itu. suara hembusan angin membuat suasana makin seram. Suara menjadi sunyi dan tak ada suara air hujan. “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA......” suara di kamar itu sangat melengking. Entah suara siapa. Mereka semua ketakutan dan mencoba pergi. Pintu kamar Naya tertutup. Dan mereka terperangkap di kamar itu. hujan pun turun seketika dengan derasnya. Suara pintu yang menggedor kembali terdengar. Tapi pukulan itu lebih cepat dan lebih keras. Setelah pukulan beberapa kali di iringi dengan hujan yang amat deras. Seketika berhenti. Hujan yang tadinya deras juga berhenti. Dio mencoba melihat keadaan. Saat Dio baru meletakkan tangannya di gagang pintu sentak Dio terkejut. Kapak tepat berada di depanya. Jantung Dio berdebar dengan kencang. Dio mengurungkan niatnya dan kembali. Mukanya pucat. Naya terbagun, muka pucat dan seperti orang melamun. Ia bangun dari tidurnya dan duduk. Tatapan mata Naya berbeda. “pergi kalian dari rumah ini” dengan gemetar Rasti bertanya “kenapa...?? nay..,, kamu kenapa? Sadar nay.. sadar..” sambil memegang Naya. “dia telah pergi”. “apa maksudmu nay..?” Wiwik bertanya lagi. “PERGII.....” mereka semua lari ke lantai bawah.
***
 pintu villa itu terkunci. Dio lari mengambil benda di dapur untuk membuka pintu. Ia membongkar semua, sentak ia terkejut melihat sosok tinggi besar bewarna hitam, rambut panjang, dan mata yang menyala. Dio terdiam dan kaku. Ia tidak dapat bergerak. Naya datang membawa kapak dan seketika menebas leher Dio. Naya lalu pergi dengan ekspresi datar dan melepas kapak itu. Sedangkan teman-temannya yang lain masih meronta dan berteriak minta bantuan.
 “eh tunggu..,,” ujar Rasti.
“apa..?, kita harus keluar dari villa ini.” Fiko menjawab dengan nafas ngosngosan.
“dio..., dio mana?? Kenapa dia belum balik.” Jawab Rasti khawatir
“aku susul dia” fiko menjawab
“jangan...., kamu diam disini saja” Wiwik menjawab dengan ketakutan
Fiko tidak menghiraukan Wiwik dan mencari Dio. “Dio..., Dio...”  Fiko memanggil manggil Dio.
Rasti ingin pergi ke toilet. “Rasti, mau kemana. Diem sini..”
“aku ke toilet bentar, gak tahan ni, kamu diem disini aja, nanti Fiko nyari’in lagi”
“aku..., aku.. gak berani”
“ah.. manja banget sih kamu,, tunggu disini.” Rasti pun pergi ke toilet

Sentak Fiko terkejut. Lumuran darah di dapur mengejutkan Fiko. “Dio..., io....,, Dio... kamu dimana io. Dio...” Fiko lalu terjatuh seperti ditarik. Terlihat sosok yang dilihat Dio tadi. “AAAAAAAAAAAAAAAAAA......”

Rasti mencuci mukanya di wastafel, saat ia melihat cermin.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA.....”
Dilihat sosok wanita tidak memiliki tangan dan setengah badan di belakangnya. Rasti mencoba membuka pintu toilet tetapi tidak bisa.

Sentak Wiwik terkejut mendengar dua temannya yang teriak bersamaan. “tolong..., tolong...” sambil memukul-mukul pintu villa.
Suasana villa itu sepi, tidak ada terdengar suara apapun. Wiwik memberanikan diri mencari Rasti di toilet. Wiwik menggedor-gedor pintu toilet “Rasti....Rasti..” dengan pelan Wiwik memangil Rasti. Tapi tidak ada jawaban apapun. Wiwik lalu pergi ke dapur. “Fiko.., Dio..., Fiko...”
Tak ada ditemukan siapapun disana. Hanya dapur yang berantakan. Darah yang dilihat oleh Fiko tadi tidak ada. Saat Wiwik berbalik arah, untuk kembali ke pintu depan. Seketika bayangan hitam lewat di belakangnya. Sentak Wiwik berbalik arah, tapi tidak ada satu orang pun disana. Wiwik segera kembali ke pintu dan meminta bantuan.  “tolong..,, tolong...” Wiwik terus berteriak meminta tolong. Naya datang membawa sebuah kapak. “Naya..” Wiwik mundur dari tempatnya berdiri. Diangkat kapak itu ke arah Wiwik. Tongkat kayu dibelakangnya diambil untuk menghindari kapak itu. dan Wiwik memukul pundak Naya. Naya pun pingsan. Wiwik coba membuka jendela, tetapi tidak bisa. Warga sekitar villa lewat di depan villa itu, dan Wiwik segera meminta bantuan. Warga itu pun segera membantu. Dan akhirnya wiwik bisa keluar dari villa itu
***
“Nak, kamu ngapain di villa ini?” tanya salah satu warga
“saya liburan disini pak.., teman-teman saya...” ujar Wiwik lemas
“teman-teman kamu disana?” tanya warga kaget
“ ya, emangnya kenama pak?” tanyanya heran
Seorang warga pun menjelaskan sambil mengajak Wiwik ke kantor desa. “villa itu sudah 10 tahun ditinggal pemiliknya dan tidak ada yang mengurusnya sehingga konon villa itu angker. Banyak warga yang sudah melihat penampakan di villa itu. dan villa itu dikunci, tidak ada yang bisa membukanya. Terus kamu dapet kuncinya dari siapa?” tanya warga itu
“kemarin ada penjaga villa yang menunggu kami untuk memberikan kunci. Namanya pak Burhan.”
Sentak warga itu terkejut dan bertanya “adek datang kesini jam berapa?”
“Sekitar jam 10 malam. Ada apa pak?”
“Nanti saya jelaskan di kantor desa”
Mereka sampai di kantor desa. Waktu sudah subuh. Terlebih dahulu mereka sholat berjamaah di musholla. Dan kepala desa menjelaskan semua hal itu di musholla.  Ternyata penjaga villa yang dimaksud Wiwik itu memang penjaga villa. Tetapi dia sudah lama meninggal. “Sekitar 10 tahun yang lalu bersamaan dengan villa yang mulai angker. pak Burhan adalah warga sini,  dia sering menggunakan ilmu hitam untuk menarik perhatian orang yang menginap di villa itu. Dan entah apa masalahnya dengan majikannya, pak Burhan dibunuh oleh majikannya itu dan ia mengutuk villa itu “siapapun yang berani menginap di villa ini, maka saya akan membalaskan dendam saya” itu kata pak burhan”, ujar pak kepala desa menjelaskan. Sedangkan majikannya meninggal di persimpangan jalan karena kecelakaan. Setelah dijelaskan Wiwik kemudian bertanya “terus, bagaimana teman-teman saya?” 
“sudah, biarkan mereka,mereka semua sudah mati” kata warga menjawab.
Wiwik menolak dan ingin mencari teman-temannya. Warga sekitar ikut membantu mencari teman-temannya. Tapi, tak sedikit pun tanda bahwa ada orang disana. Villa itu kembali rapi. Dengan dipenuhi debu dan sarang laba-laba. Akhirnya Wiwik di suruh segera pulang ke kota sebelum malam sampai kota dan cuaca sudah mulai mendung. Dengan menggunakan mobil Dio, Wiwik pun pergi ke kota. Ia bertemu hujan yang cukup deras. “AAHH...,, apa tadi?” Wiwik ngrem mendadak. Seperti ada sesuatu. Wiwik turun dari mobil dan tidak ditemukan apa-apa. Saat akan naik mobil. Warna hujan berganti menjadi merah. Seperti darah. Wiwik segera masuk mobil. “AHH,, imajinasi aja” Ia melanjutkan perjalanannya. Dan hujannya kembali berwarna seperti biasanya.


THE END

Senin, 02 Juni 2014

Cepen ku yang ke-3

Penghianatan
Nindi adalah sahabat baik Anggi dan Tari. Mereka selalu bersama. Entah disekolah ataupun diluar sekolah. Persahabatannya sudah cukup erat. Walau mereka belum lama saling mengenal. Mereka telah bersahabat hampir 6 bulan lamanya. mereka sering kumpul bersama dan mengadakan kerja kelompok. Di sela-sela mereka berkumpul, banyak hal yang di ceritakan oleh mereka bertiga. Entah itu masalah pelajaran, ataupun teman-teman mereka. Mereka bertiga termasuk siswi yang pintar dikelasnya. Terutama Nindi. Nindi sering diminta oleh guru untuk mengajarkan teman-temannya. Semester 2  tahun ajaran 2013/2014, mereka disibukkan dengan praktek. Suatu ketika, mereka diberikan tugas praktek yang dikerjakan secara individu. Saat itu Tari bertanya kepada Nindi dan Nindi memberi tau Tari. Beberapa kali Tari bertanya, dan selalu dijawab Nindi. Setelah beberapa kali bertanya, Tari ingin melihat pekerjaan Nindi. saat itu Nindi lagi tidak ingin memberi lembar kerjanya. Akhirnya Tari ngambek. Mulai dari pelajaran itu sampai pulang sekolah, Tari tidak menyapa Nindi. Nindi mengetahui itu dan hanya terdiam. Karena Nindi sudah tau sifatnya.  Keesokan harinya, Nindi menjauhi Tari dan Anggi. Entah apakah Anggi juga mendiamkannya atau tidak. Perselisihan ini semakin terlihat dan beberapa temannya mengetahui hal itu termasuk laki-laki yang Nindi suka. Guru mereka menyuruh membuat kelompok dan Nindi berkelompok dengan teman-temannya yang dibelakang. Setelah pelajaran selesai. Nindi tetap duduk dibelakang. Ada temannya yang bertanya “Nin, kenapa kamu duduk dibelakang?”. Pertanyaan itu tidak dirisaukannya dan meninggalkan temannya yang bertanya. Nindi pergi duduk dibangku belakang. Terlihat raut wajah Nindi yang tampak murung. Riko melihat Nindi yang sedang bersedih. Riko adalah cowok yang ia sukai. Tetapi Riko hanya terdiam.
***
Keesokan harinya, saat istirahat sekolah tiba. Tari tiba-tiba bicara dengan Nindi. “Nin, ikut ke kantin?”.  Nindi hanya menjawab dengan nada datar “saya gak ikut, lagi puasa”. Tari bersama Anggi pergi meninggalkan Nindi. Setelah dari kantin, Tari duduk di samping Nindi dan mengatakan “Nin, maaf ya, saya diemin kamu”. Nindi menjawab dengan senyuman dan mengatakan iya. Namun di hati Nindi, masih ada beban. dua hari berikutnya, hari-harinya kembali seperti biasa, tetapi ada yang beda. Karena, Nindi dan Tari terlihat lebih sering tidak bersama. Hari minggu, Nindi membuat sebuah status di sebuah jejaring sosial miliknya. Ia menyindir sahabat-sahabatnya.
Hari berikutnya. Jam pertama, mereka diperintahkan oleh gurunya untuk membuat kelompok yang terdiri dari 4 orang. Fino, teman baik Nindi. Mengajak Nindi untuk berkelompok bareng dengan Anggi dan Tari. Karena Anggi teman sebangku Fino. Nindi tidak terlalu memikirkan teman kelompok. Ia masih sibuk dengan hal lain. Ia masih sibuk menjelaskan tugas yang diberikan oleh guru. Setelah Tari menarik bangku ke dekat meja Anggi, seketika Lia menarik bangkunya ke kelompok Fino. Nindi hanya terdiam melihat itu dan membuat kelompok sendiri. Karena hal itu, Nindi satu kelompok dengan Riko yang juga tidak memiliki teman kelompok. Sebelumnya Nindi sempat heran. “Kenapa Lia memisahkan diri dengan Dian?” tanyanya dalam hati. Sementara Dian adalah teman baiknya. Tetapi hal itu tidak dipikirkannya terlalu jauh. ia melanjutkan tugas yang diberikan oleh gurunya. Setelah pelajaran usai. Dilajutkan oleh pelajaran berikutnya. Saat itu, Lia dan Dian terlihat tidak pernah bersama. setelah pelajaran terakhir,temannya menceritakan kepada Nindi, apa yang didengarnya pagi hari sebelum bel masuk sekolah berbunyi, saat suasana kelas masih sepi. Ia bercerita panjang lebar mengenai hal yang didengarnya. Tari, Anggi dan Lia bicara bertiga mengenai Nindi. “Mereka akan menjauhi Nindi jika Nindi ingin sukses sendiri” kata teman Nindi. Ia sempat bicara dengan Tari, dan Tari mengatakan “sifat Nindi sudah berubah, dan gak seperti dulu”. Mendengar cerita temannya, Nindi hanya terdiam dan tersenyum. Entah apa yang difikirkan Nindi.
Pulang sekolah, Nindi  bertemu dengan Lia. Dian bertanya kepada Nindi “ Nindi kamu ada masalah sama Tari?”.
Nindi menjawab dengan nada kecewa “ Iya, dia yang memulai semua ini. kamu lagi ada masalah sama Dian?” 
“ gak ada, tapi kalau aku sudah males sama orang, males sudah” ujar Lia
Akhirnya Nindi bercerita tentang masalah yang terjadi pada dirinya dan Tari. Dian akhirnya bercerita masalahnya. “ Nin, saya juga kurang suka sama Tari. Bagaimana tidak. Dua hari yang lalu kita diberi tugas, mereka berdua teman kelompok saya. Terus saya kan masih main. Saya datangi dia dan bertanya sama dia. Kenapa gak panggil saya.?”
Sentak Tari menjawab dengan kerasnya “ Kamu yang kemana? Dari tadi orang kerja’in tugas”
Dian bercerita, bagaimana dia tau kalau dia tidak di panggil. Lalu dia yang disalahkan. Itu yang membuat dia sangat tersinggung yang membuat Dian tidak suka dengan Tari dan Lia. Setelah bercerita Dian di jemput. Sedangkan Nindi masih menunggu jemputan. Sambil menunggu jemputan, Nindi berfikir “ berarti benar, Dian dan Lia renggang karena ada masalah.” Tak lama Nindi di jemput.
***
Berlanjut di hari berikutnya. Nindi menjauhkan diri. Ia masih terbayang-bayang dengan kata-kata yang dikatakan Ratih. Dalam hati Nindi berkata “apa iya? Mereka menjadi temanku hanya karena aku pintar? Apa mereka benar-benar manfaat’in aku?”  dari kejadian itu, Nindi lebih sering bermain dengan teman-temannya yang lain. hari-harinya tetap di jalani seperti biasa. Setelah olah raga, mereka semua melanjutkan pelajaran berikutnya. Nindi sudah menyelesaikan tugas yang di berikan gurunya. Yaitu tugas ke 7. Sementara teman-temannya masih mengerjakan tugas ke 6. Nindi semakin ragu dengan pertemanannya selama ini. Karena Tari, Anggi, dan Lia sama sekali tidak bertanya kepada Nindi saat mereka tidak mengerti. Saat Nindi sedang sibuk, Tari bicara dengan Nindi “ Nin, boleh aku pinjem laptopmu untuk ngeprint?”. Nindi menjawab “iya”. Karena laptopnya dipakai Fino, Nindi tidak enak jika tidak meminjamkannya. Keesokan harinya, mereka ulangan matematika. Mereka ulangan open book. Tapi saat itu, Nindi memilih pindah duduk dan bergabung dengan teman laki-lakinya. Ulangan di mulai. Dan ternyata mereka diperbolehkan diskusi. Nindi mengerjakan ulangan sambil main dengan teman-temannya yang dominan laki-laki. Lia bertanya kepada Nindi dan Nindi mejawabnya. beberapa kali Lia bertanya dan Nindi terus menjawab. Jam hampir habis. Nindi mengumpulkan ulangannya. Lalu ia kembali ketempat duduk. Teman-temannya yang lain bertanya. Nindi pun memberi tau. Hampir seluruh temannya merapat ke Nindi untuk mencari jawaban. Sedangkan, Tari, Anggi dan Lia tetap bertiga dan tidak ingin bergabung dengan yang lain. Riko melihat kejadian itu semua. Akhirnya dia bertanya kepada Dian. Dian menceritakan masalah yang terjadi. Karena dian sudah dekat dengan Riko. Sementara itu, Tari, Anggi dan Lia sedikit kerepotan dan kesusahan. Nindi hanya diam saja dan menguatkan dugaannya kalau mereka hanya memanfaatkan dirinya.
***
Melihat kejadian itu, Riko hanya bisa diam. Karena riko anak yang pendiam. Fino semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya yang terjadi. Tetapi ia tidak ingin ikut campur terlalu jauh tentang masalah Nindi. Riko merasa gelisah memikirkan Nindi saat ia berada dirumahnya. Saat itu juga Nindi sedang menyendiri dikamar dan menangis. Ia menangisi persahabatannya. Selain itu, ia juga menangisi masalah yang terjadi dalam keluarganya. Riko mencoba menghubungi Nindi. Ia sms Nindi. Nindi yang saat itu sedang sedih, merasakan senang walau itu hanya sedikit. Riko bertanya keadaannya Nindi. Nindi yang merasa nyaman dengan Riko memberanikan diri untuk curhat. Walaupun curhatnya tidak secara terang-terangan orang yang dimaksud. Tapi riko mengerti dan mengetahuinya.
Riko mencoba menghibur Nindi. Nindi yang tadinya menangis di penuhi air mata, sedikit demi sedikit tersenyum dengan dukungan dan motivasi dari Riko.
***
Keesokan harinya, saat jam istirahat. Tari ditemukan tewas di kebun belakang sekolah. Dengan keadaan menggenaskan. Lehernya terikat kain sedangkan bagian tubuhnya tersayat-sayat oleh beberapa bekas pisau. Bagian tangannya terpotong-potong menjadi 5 bagian. Mayatnya ditemukan setelah penjaga sekolah pergi kekebun untuk membersihkan kebun yang sudah lama tidak di urus. Sentak, terjadi keributan disekolah itu. Kepala sekolah yang saat itu tidak berada ditempat membuat kejadian itu semakin membuat semua warga sekolah ketakutan. Wakil kepala sekolah langsung menghubungi polisi untuk mengamankan semuanya. Sementara itu, semua teman sekelas Tari histeris melihat teman mereka menjadi seperti itu. Sampai-sampai wali kelas mereka pingsan dan tak sadarkan diri. Tari yang melihat hal tersebut hanya bisa terdiam dan tak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan. Anggi, Lia, Dian histeris melihat teman mereka yang di mutilasi.  Sedangkan Nindi hanya bisa diam melihat kejadian yang terjadi pada Tari. Polisi datang setelah setengah jam kejadian. Para siswa dipulangkan lebih cepat untuk menghindari kejadian yang serupa dengan Tari. Beberapa teman Tari pingsan dan orang tuanya datang untuk menjemput. Orang tua para siswa yang pingsan sentak terkejut melihat mayat Tari yang dimutilasi. Orang tua Tari dihubungi setelah kejadian. Nindi pulang menggunakan angkutan umum karena tak ada yang menjemputnya. Sepanjang perjalanan, ia berfikir, siapa yang telah berbuat seperti itu kepada Tari. Tak lama, dia sampai di rumahnya. Riko teman sekelasnya juga hanya diam dan tidak bisa berbuat apa-apa. Sama halnya dengan Nindi.
***
Sore hari, orang tua dari Anggi menghubungi Lia, sahabat Anggi.
“Nak..,,, Anggi....,, Anggi...,, “ kata orang tua Anggi menelpon Lia.
“Anggi?? Anggi kenapa tante?” kata Lia penasaran.
Ibu Anggi diam dan tidak berbicara sedikit pun.terdengar suara jerit tangis yang mendalam. Kemudian Lia bertanya lagi. Setelah pertanyaan kedua, Ibu Anggi menjawab dengan nada sangat sedih
 “ Anggi,, Anggi...,, dia meninggal.
Sentak, ia menagis dengan sangat keras. Beberapa menit kemudian, Lia bertanya kembali.
“ Tante, Anggi.,, ke..,, ke.. napa bisa meninggal..??” sambil ia menahan tangisannya.
“Tante gak tau penyebab pastinya. Tapii...” Ibu Anggi kembali terdiam.
“Tapi kenapa tente..,,?? Kenapa??”
“Anggi meninggal dikamar. Ada beberapa luka di badannya” ibu Anggi kembali menagis dengan histeris
Ayah Anggi segera menghubungi polisi untuk meminta bantuan. Karena menurut ayah Anggi ini adalah pembunuhan. Polisi datang dan memeriksa sudut-sudut rumah. Namun tidak ditemukan hal yang mencurigakan. Mayat Anggi dibawa ke rumah sakit untuk di periksa lebih lanjut. Karena ada beberapa luka lebab dan luka tusukan di sekujur tubuh Anggi.
Beberapa hari di otopsi, pihak rumah sakit menghubungi kepolisian dan pihak keluarga. Dan menyatakan bahwa adanya unsur kesengajaan yang di lakukan oleh seseorang. Dan diperkirakan tusukan di sekujur tubuh menggunakan pisau yang sudah karatan.
***
Dua siswinya meninggal dengan cara yang sadis. Untuk itu, kepala sekolah meliburkan siswa-siswinya untuk mengantisipasi adanya korban selanjutnya dan berpesan selalu waspada.
Nindi menyendiri di sudut kamarnya. Menangisi semua yang terjadi. Dua sahabatnya sudah tiada. Entah dengan siapa dia mencurahkan isi hatinya yang sangat sedih. Sementara itu, teman-teman Anggi pergi kerumah Anggi untuk melayat. Tetapi Nindi tidak ikut. Dia hanya mengurung dirinya. Fino teman Nindi mencoba menghubungi Nindi. Beberapa kali di telpon dan di SMS tidak ada satupun balasan. Sedangkan Riko datang. Riko juga ikut menghubungi Nindi tapi sama hal nya. Tidak ada balasan. Setelah pulang melayat. Riko mencoba SMS Nindi. Dalam pesannya. Ia memberi suport dan semangat kepada Nindi.
***
Setelah dirasa aman. Sekolah berjalan kembali. Tetapi pengawasan lebih di perketat. Sifat Lia berubah. Dia menjadi orang yang pendiam. Suasana kelas masih berduka. Masih banyak teman-teman Tari dan Anggi mengingat sifat-sifat mereka. Nindi juga lebih sering menyendiri.
Pihak kepolisian datang ke sekolah untuk penyelesaian masalah. Polisi melakukan olah TKP di sekolah karena 2 siswi sekolah tersebut. Dan besar kemungkinan bahwa pembunuhnya adalah warga sekolah. Tapi belum dipastikan siapa yang melakukan.
Setelah dilakukan penyelidikan, tidak ditemukan satupun tersangka. Akhirnya pencariaan pembunuh dihentikan sementara. Beberapa hari kemudian seorang siswa menemukan sebuah benda tajam yang berlumuran darah di belakang sekolah yang di baluti oleh kain hitam dan dibungkus kertas .plastik berwana hitam. Lantas siswa itu melaporkan hal tersebut. Dengan segera kepala sekolah menghubungi pihak polisi dan polisi menduga pembunuh 2 siswi itu kemungkinan siswa dari sekolah itu. Sentak kepala sekolah dan beberapa orang yang mendengar terkejut . mereka tidak percaya bahwa salah seorang siswanya membunuh siswa lain. Penyelidikan dilakukan kembali dan lebih di perketat. Teman-teman Tari dan Anggi di introgasi. Nindi pada saat diintrogasi menangis. Dan di tuduh oleh Fino bahwa ia telah membunuh Tari dan Anggi. Nindi menyangkalnya dan hanya menangis sendirian. Lantas Riko membela Nindi, tidak peduli ada atau tidaknya polisi. Karena Riko juga mencintai Nindi.
***
Kematian salah seorang teman mereka kembali terjadi. Fino tidak pernah pulang selama 2 hari. Dan ternyata mayatnya ditemukan di sebuah jalan yang hampir jarang dilalui oleh seseorang. sehari kemudian, winda ditemukan tewas di belakang sekolah tepat di tempat mayatnya Tari ditemukan. Polisi makin menguatkan dugaannya bahwa pembunuhnya adalah siswa sekolah itu sendiri.
Dua hari kemudian, Riko berjalan ditengah malam sebuah jalanan yang amat sepi. Sambil menggeret satu bungkusan yang digeret nya. Ia membawa ke sebuah jurang yang terjal. Dan ternyata itu adalah mayat kiki. Kiki teman mereka yang sering membuat Nindi kesal.
***
Keesokan harinya Nadine sedang pergi ke toilet, saat ia berjalan, ia melihat Riko membawa sesuatu ditangannya. Nadine yang penasaran mengikuti kemana Riko pergi. Sentak, tak lama Nadine melihat temannya sendiri menusukkan pisau ke bagian dada temannya yaitu wadi. Nadine tidak dapat berbuat apa-apa. Ia langsung pergi dan melaporkan kejadian itu kepada kepala sekolah. Kepala sekolah mendatangi tempat kejadian. Dengan kagetnya, kepala sekolah melihat langsung apa yang dilakukan Riko. Badan Riko masih berlumuran darah bekas cipratan dari tusukan yang dilakukan  berkali-kali oleh Riko sendiri. Siswa-siswi lain khususnya teman sekelas mereka tercengang melihat apa yang dilakukan Riko. Sentak Nindi pun terkejut melihat yang dilakukan Riko. Riko yang ia cintai dan ia percaya selama ini adalah pembunuh teman-temannnya. Riko melihat Nindi dan menagis. Nindi yang mengeluarkan air mata, seakan-akan tidak percaya bahwa itu semua kejadian nya. Riko mendekati Nindi. Bertekuk lutut meminta maaf. Kepala sekolah langsung membawanya ke kantor untuk di introgasi. Tak lama polisi datang dan melakukan introgasi.
“mengapa kamu melakukan hal tersebut?, apa kamu sadar melakukannya?” tanya polisi kepada Riko
Dengan berlinang air mata, Riko menjawab “iya”
Sentak, polisi dan kepala sekolah terkejut. Dan Riko dibawa ke kantor polisi untuk ditindak lanjuti. Sementara itu, mayat Wadi dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan otopsi.
***
Nindi kembali kekelas dan menangis tersedu-sedu. Ia masih tidak percaya bahwa pembunuh nya adalah Riko. Sama halnya dengan Nindi. Teman-teman mereka yang lainpun tidak percaya. Tetapi Nadine menjelaskan dan menceritakan apa yang ia lihat. Tiga hari berlalu, akhirnya polisi memutuskan bahwa “Riko adalah pembunuh dari semua teman-temannya. Ia telah membunuh 5 temannya sendiri dengan sadar”.
Sentak kepala sekolah dan seluruh guru terkejut. Guru-gurunya berpendapat bahwa Riko adalah siswa yang pendiam dan tidak suka membuat onar. Dan kepolisian telah memutuskan bahwa Riko dipenjara seumur hidup karena telah melakukan pembunuhan dengan sadar.

***THE END***


Kamis, 17 April 2014

Cerpen ku yang ke-2


                            KEMARAHAN YANG TERPENDAM

Dikelas XI IPA2 suasana kelas ribut. Dewi, ketua kelas XI IPA 2 pusing dengan kelakuan teman-temannya yang membuat onar. Dewi adalah perempuan yang pintar, karena itu, teman-temannya memilih dia sebagai ketua kelas. Katanya sih untuk dijadikan contoh buat teman-temannya. Dewi mempunyai karakter yang susah marah, apalagi dengan temannya. Tetapi, lama kelamaan di dalam hatinya, tumbuh rasa kemarahan yang tidak dapat diungkapkan. Dewi kesal banget dengan temannya yang bernama Sinta. Sinta adalah salah satu siswi kelas XI IPA 2, dia siswi yang paling susah diatur. Dewi sudah beberapa kali menegur Sinta agar dia diam, tapi sedikit pun tidak di dengar oleh Sinta. Suatu hari, kemarahan Dewi semakin menjadi. Hatinya sangat sakit, tapi ia tetap menahan emosinya itu. Dewi juga memiliki masalah dirumahnya. Dewi adalah anak broken home, ia tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tuanya. Orang tuanya terlalu sibuk dengan karir mereka masing-masing. Dewi merasa sendiri. Tidak ada seorang pun yang menemani. Dewi merenung sendiri, bagaimana agar Sinta mau mendengar kata-kata Dewi. Akhirnya Dewi memutuskan untuk mendekati Sinta. Keputusannya itu berhasil, ia dan Sinta menjadi teman, Sinta sedikit demi sedikit mau mendengar apa yang dikatakan Dewi.
***
Dewi memiliki sahabat yang bernama Vera dan Doni. Mereka sering banget main-main bertiga. Dewi, ternyata menyukai Doni. Menurutnya, Doni adalah anak yang baik dan pinter. Waktu terus berjalan, suatu hari Doni curhat dengan Dewi masalah perasaannya. Doni mengatakan bahwa dia menyukai seseorang, yaitu sahabatnya sendiri . Dewi penasaran dan bertanya siapa orang yang dimaksud. Doni menjawab dengan agak gugup dan malu, ia menjawab Vera. Sentak Dewi terkejut dan mulai tidak menyukai Vera. Dewi hanya terdiam dan tidak berkata sedikit pun. Lalu ia pergi meninggalkan Doni sendiri. Sepanjang perjalanan, ia terbayang-bayang dengan kata-kata yang dilontarkan oleh Doni. Mulai saat itu, Dewi membenci Vera dan Doni, karena ia merasa tidak ada lagi yang menyayanginya, ia putus as. Saat ia berkumpul bertiga, kelakuan Dewi dari hari ke hari makin aneh, ia sering pergi jika ia kumpul bertiga. Vera yang saat itu membawa makanan ringan dan menawarkannya kepada Dewi, seketika juga Dewi menolak dengan nada keras yang membuat Vera terkejut. Doni yang melihat itu langsung menghampiri Dewi dan memarahi Dewi. Dalam hati Dewi, ia merasa amat sedih, orang yang ia cintai membentaknya.
***
Dewi merenung seorang diri di kamarnya. Suara tangisan terdengar sampai depan pintu kamar Dewi. Ibu dan ayahnya yang pulang sudah larut malam mendengar suara tangisan itu. Ibu Dewi menggedor-gedor kamar Dewi. Tapi tak ada sedikit pun Dewi menyahut panggilan ibunya. Tak lama, suara tangisan itu tidak ada, kekesalan ia tuangkan kepada bantal yang ia cabik-cabik menggunakan gunting. Malam itu, sangat lama bagi Dewi. Kebencian didalam dirinya makin menjadi. Kemarahan yang ia tidak bisa tuangkan. Pikiran Dewi saat itu amatlah pendek. Ia mengambi sebuah guntung dan foto kedua sahabatnya. Lalu ia gunting-gunting foto kedua sahabatnya itu. Subuh sekali, kedua orang tuanya sudah berangkat untuk bekerja. Hari itu Dewi tidak masuk sekolah, dan tidak mengirim surat. Ia mengurung diri dikamar dan seharian tidak keluar kamar. Malam harinya, Dewi baru keluar kamar, ia mencari makanan didapur, saat ia memotong apel terlintas dibenaknya, untuk membunuh  Doni dan Vera. Dewi pergi kekamarnya dan membuat sebuah rencana yang mulus. Menurutnya rencana tersebut tidak akan ada yang tau. Ia mulai melakukan kejahatannya itu keesokan harinya. Saat jam istirahat, Vera dan Doni sedang bakso. Sebelum diantarkan, Dewi menaruh obat pencahar di dalam bakso tersebut. Tak lama setelah mereka makan, perut kedua sahabatnya mules, dan mereka pergi ke kamar mandi. Di sana Dewi mulai bertindak. Kamar mandi yang di masuki oleh Vera dikunci dari luar dan diberi pengharum ruangan yang banyak. Setelah itu pintu dibuka Dewi. Vera yang sudah lemas melihat dengan samar seseorang menggunakan jubah hitam. Karena kekurangan oksigen dan sudah tidak bisa bergerak karena lemas, Dewi memberi obat kepada Vera dan menyuruh Vera minum obat yang melebihi dosis dengan paksaan, kemudian mulut dan hidungnya ditutup dengan tangan Dewi sendiri yang dibaluti kain. Beberapa menit kemudian Dewi melepaskan tangannya, busa keluar dari mulut Vera. Senyuman di lontarkan oleh Dewi sambil pergi meninggalkan Vera dikamar mandi. Doni yang masih keluar masuk kamar mandi, saat ia keluar dari kamar mandi, ia terkejut dengan orang yang berjubah hitam, yang seketika itu membius Doni. Orang itu adalah Dewi, Dewi menusuk Doni di kamar mandi belakang sekolah, pisau yang digunakan ia lepaskan di tangan Doni dan Dewi sudah menusukkan beberapa kali ke bagian perut Doni. Pisau itu sengaja ia lepaskan agar seakan-akan Doni menusuk dirinya sendiri.
***
Bel pulang berbunyi, siswi yang lari terbirit-birit ke kamar mandi karena kebelet, dengan kerasnya berteriak. Guru yang kebetulan lewat langsung mendatangi asal suara teriakan. Sentak gurunya terkejut melihat Vera yang tergeletak di kamar mandi dengan mulut di penuhi dengan busa. Para siswa yang lain berdatangan dan pak satpam datang. Vera di bawa ke rumah sakit, tapi nyawanya tidak tertolong lagi. Malam harinya, penjaga sekolah mengecek sekolah, lorong demi lorong di periksa. Saat melewati kamar mandi laki-laki ia mencium aroma tidak sedap dari sana. Akhirnya penjaga memeriksa kamar mandi. Dengan terkejutnya ia melihat Doni yang berlumuran darah di bagian sekujur badan Doni. Penjaga sekolah langsung menghubungi kepala sekolah dan menceritakan apa yang terjadi. Beberapa menit kemudian kepala sekolah datang. Melihat hal tersebut, kepala sekolah menghubungi pihak kepolisian untuk di tidak lanjuti. 30 menit kemudian kepolisan datang dan langsung melakukan olah TKP. Menurut investigasi sementara, kepolisian menyimpulkan bahwa Doni seperti menusuk diri sendiri. Tapi polisi masih melanjutkan investigasinya dan membawa Doni ke rumah sakit untuk di otopsi. Keesokan harinya pihak kepolisian datang ke sekolah untuk memberi keterangan mengenai Doni. Dewi di kelas hanya diam, dan sedih karena kedua sahabatnya mati dengan cara mengenaskan. Teman sekelasnya memberi suport untuk Dewi agar ia tidak bersedih lagi. Hari-hari Dewi semakin suram. Kemarahan yang masih belum bisa terobati. Orang tuanya masih sibuk dengan urusan masing-masing. Teman-teman sekelasnya masih saja susah di atur. Ia berniat untuk membunuh temannya yang susah di atur yang bernama Bayu. Bayu adalah siswa yang susah di atur, ia adalah siswa XI IPA 2 yang gak pernah absen di BK. Bayu adalah anak guru BK, julukan dari teman-temannya. Saat itu Dewi sedang bad mood, ia capek turun naik tangga karena banyak tugas yang diberikan oleh gurunya, karena kelasnya di lantai 3. Suara kelas yang amat ribut membuat Dewi makin pusing. Kelakuan Bayu membuat Dewi muak. Tapi ia menenangkan diri dan bisa mengendalikan emosinya.
***
Seminggu kemudian, setelah 7 hari meninggalnya Vera dan Doni, kemarahan Dewi kepada Bayu semakin menjadi. Bayu yang saat itu berjalan pada malam hari pulang sekolah setelah menghadiri 7 hariannya Vera dan Doni. Tiba-tiba Bayu melihat orang menggunakan jubah hitam di balik pohon. Sentak ia lari terbirit-birit ketakutan. Karena takutnya kaki Bayu lemas, saat Bayu sedang duduk, kakinya susah digerakkan, seketika itu pisau dari belakang Bayu di tancapkannya oleh Dewi hingga menembus dada Bayu. Kemudian pisau itu dicabut dan di tusukkan lagi oleh Dewi. Darah bercucuran, mayat Bayu di biarkan begitu saja oleh Dewi tanpa di pindahkan ataupun di tutup. Pagi hari, seorang pemulung melewati jalan tersebut, awalnya pemulung itu mengira binatang yang mati, setelah diamati dan didekati ternyata seorang manusia yang memakai pakaian seragam sekolah yang tak jauh dari tempat itu. Pemulung itu langsung berlari menuju sekolah dan memberi taukan hal tersebut kepada pak satpam. Pak satpam yang tidak percaya akhirnya mengikuti pemulung yang memberi taunya. Benar saja, pak satpam melihat siswa sekolah itu meninggal lagi. pak satpam langsung menghubungi kepala sekolah dan kepala sekolah menyusul ke tempat kejadian. Untuk kedua kalinya kepala sekolah menghubungi pihak kepolisan dan menceritakan hal tersebut. Belum tuntas tentang kematian Doni dan Vera, Bayu juga mati dengan cara yang mengenaskan. Polisi melakukan hal sama yang dilakukan pada saat menginvestigasi Doni. Salah seorang polisi sedang berbincang-bincang dengan kepala sekolah mengenai hal yang belakangan ini sering terjadi disekolahnya. Menurut kepala sekolah, ada yang meneror sekolah atau ada mahluk gaib yang meminta tumbal. Tapi menurut seorang polisi tersebut ada unsur kesengajaan yang dilakukan oleh seseorang. Setelah berbincang-bincang dengan kepala sekolah dan memberikan keterangan. Polisi tersebut meninggalkan sekolah. Tidak sengaja Dewi mendengar pembicaraan kepala sekolah dengan seorang polisi tersebut. Kaena takut apa yang dilakukannya diketahui oleh orang banyak, Dewi melakukan sesuatu. Dewi mencari tau tentang polisi yang datang ke ruang kepala sekolah tersebut. Setelah ia rasa cukup, tentang alamat, keluarga dan teman temannya, Dewi memulai rencananya. Di tengah malam, ia melakukan aksinya tersebut. Ia mendatangi rumah polisi dan mengendap secara perlahan dan mulus. Pintu di gedornya beberapa kali. Istri polisi yang mendengar suara gedoran pintu membangunkan suaminya. Karena suaminya kelelahan, akhirnya istri polisi itu memeriksa ke depan rumahnya. Saat itu, Dewi mengendap kedalam rumahnya melalui jendela anak polisi tersebut dan sesegera mungkin mencari kamar polisi. Tak lama, Dewi menemukan kamarnya dan tanpa basa basi langsung menusukkan pisau yang dibawanya ke badan polisi tersebut beberapa tusukan, setelah itu, Dewi menyelimutkan polisi tersebut dan meninggalkannya. Istri polisi yang memeriksa ruang tamu tidak bertemu denga seorang pun dan kembali kekamar. Ia kembali tidur, saat akan berselimut, lumuran darah dibalik selimut membuat istrinya teriak dengan kerasnya dan 2 anak polisi itu terbangun. Tetangga sebelahnya itu terbangun dan mendatangi rumah polisi tersebut. Anaknya yang melihat ayahnya yang berlumuran darah, berlari kembali kekamarnya sambil ketakutan, sedangkan tetangganya datang dan di bukakan pintu oleh anak polisi yang satunya. Tetangganya bertanya apa yang terjadi dan melihat dengan mata kepala sendiri, polisi itu berlumuran dengan darah.
***
Teman-teman polisi dengan serius melacak dan mencari tau tentang hal yang aneh itu. Saat polisi menginvestigasi dan berkeliling sekitar rumah polisi yang mati itu. Ada seorang polisi yang menemukan jejak sepatu. Ia ikuti terus menerus sampai menuju kamar anak polisi yang dilalui Dewi. Di bagian jendela terdapat sidik jari Dewi. Polisi tersebut mengambil sidik jari tersebut dengan alat yang di bawanya. Sidik jari tersebut dibawa ke kantor polisi untuk dijadikan bukti. Beberapa hari kemudian setelah kejadian polisi mendatangi sekolah Dewi dan melakukan pengambilan sidik jari. Benar saja, wali kelas dan kepala sekolah yang berada disana terkejut. Karene sidik jari tersebut adalah sidik jari milik Dewi. Akhirnya Dewi dibawa kekantor polisi dan di proses. Orang tua Dewi datang kekantor kepolisian setelah 2 hari Dewi berada di tahanan. Saat orang tuanya datang dan membesuk Dewi, Dewi menusuk ayahnya di depan polisi. Dewi pun dilerai dan dimasukkan kedalam sel sedangkan ayahnya dibawa kerumah sakit. Dewi yang makin stres dengan semua hal itu menyayat-nyayat tangannya dengan pisau yang disimpan dan tidak diketahui oleh polisi. Sayatan itu makin banyak. Suatu malam, tahanan sebelah sel nya sedang ribut, membuat pikiran Dewi tidak tenang. Ia mengingat suasana kelas yang ribut, mengingat Vera, Doni, sekolah, orang tua dan semuanya. Dewi makin putus asa. Polisi yang melerai tahanan yang sedang ribut melihat Dewi sejenak. Dewi yang membelakaingi polisi menusuk-nusuk badannya yaitu bagian perut. Polisi lalu menenangkannya dan dibawa kerumah sakit. Setelah di obati beberapa bekas tusukan diperutnya, Dewi dibawa ke rumah sakit jiwa untuk diperksa kejiwaannya.


*THE END*


Karyaku *Eldy Septihardini*